“Ini apa?” Rama menatap kantong plastik putih yang menggantung di tangan Sinta. Plastik itu tampak tipis, bagian bawahnya sedikit basah oleh embun dari buah yang baru dibeli. Beberapa apel dan jeruk terlihat samar dari balik plastik. “Buah. Kak Rama nggak lihat?” Sinta mengangkatnya sedikit lebih tinggi, seolah memperjelas. Rama mengerutkan kening. “Untuk?” “Untuk kamu.” Sinta menyodorkannya begitu saja, tanpa banyak basa-basi. Rama tak langsung menerima. Ia justru menatap adiknya itu lama, heran. “Buat apa aku dikasih buah?” Sinta mendengus pelan. “Ya dimakan, Kak. Masa dipajang?” jawabnya ketus, tapi ada nada gugup yang tak bisa ia sembunyikan. Rama akhirnya mengambil kantong itu. “Aku pikir buat Kak Mila.” “Itu beda lagi.” Sinta berjalan lebih dulu menyusuri lorong rumah sakit y

