Mobil berhenti tepat di depan rumah. Udara sore terasa hangat, berbeda dengan dinginnya ruang rawat yang beberapa hari terakhir menjadi tempat Mila bertahan. Damar turun lebih dulu, membuka pintu perlahan dan membantu istrinya keluar. Gerakannya hati-hati, seolah Mila terbuat dari kaca tipis yang bisa retak kapan saja. “Pelan-pelan, Mil,” ucapnya lembut. Mila tersenyum kecil. Wajahnya memang masih pucat, bibirnya belum sepenuhnya berwarna, namun senyum itu tetap sama—senyum yang selalu berusaha menenangkan orang lain, bahkan saat dirinya sendiri rapuh. “Aku nggak selemah itu, Mas,” candanya pelan, meski tangannya tetap menggenggam erat lengan Damar. Sinta sudah berdiri di sisi lain, menatap kakaknya dengan mata berbinar lega. Bu Fatma pun mendekat, memeluk Mila dengan hati-hati. “Alh

