Beberapa bulan terakhir, Rama mulai memberi dirinya kesempatan. Wanita itu bernama Liviana. Ia juga berasal dari Indonesia—hangat dalam tutur kata, lembut dalam sikap, dan tidak pernah memaksa. Liviana bukan tipe wanita yang agresif. Ia hadir pelan-pelan, seperti hujan rintik yang tak terasa namun perlahan membasahi. Awalnya hanya rekan diskusi. Kemudian makan siang bersama. Lalu percakapan yang tak lagi sekadar soal pekerjaan. Rama menyadari, ini berbeda. Ia memang belum menaruh hati, belum ada getaran yang membuat dadanya sesak seperti saat melihat nama Sinta muncul di layar ponsel. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa ingin menjaga jarak terlalu jauh. Liviana sabar. Ia tidak menuntut definisi. Tidak meminta kepastian. Hanya berjalan di samping Rama, s

