“Dekati Sinta, dia cocok untuk kamu.” Pak Surya mengatakannya dengan terang-terangan, bahkan tanpa berusaha mengecilkan suara. Seolah Sinta bukan sedang duduk di sana. Seolah ia hanya bagian dari kesepakatan yang bisa dibicarakan bebas. “Nak, bagaimana menurutmu Niko?” Damar tersenyum penuh arti. Tatapannya bukan sekadar ingin tahu—melainkan memastikan jawaban yang aman. Sinta merasakan semua mata tertuju padanya. Ia tersenyum. Senyum terlatih. Senyum yang tidak menolak, tapi juga tidak membuka diri. Di kepalanya, kata-kata disusun cepat. Ia tidak ingin mempermalukan Ayahnya. Tidak ingin menciptakan ketegangan di meja yang sudah disiapkan dengan sangat rapi. “Niko baik,” ucapnya tenang. “Dan… tampan.” Kalimat paling aman. Tidak terlalu hangat. Tidak terlalu dingin. Mereka memang

