Cinta dalam diam itu tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berubah bentuk. Bertahun-tahun tanpa sapaan. Tanpa pesan. Tanpa pertemuan. Namun entah bagaimana, mereka tetap tahu. Sinta tahu saat Rama lulus dengan nilai terbaik. Ia membaca kabar itu dari pengumuman kampus yang tersebar, dari ucapan selamat orang-orang. Ia hanya menatap nama itu lama, lalu menutup layar tanpa meninggalkan jejak. Rama pun tahu ketika Sinta menjadi salah satu mahasiswa dengan predikat terbaik. Ia mendengar dari teman lama. Ia tersenyum kecil—bangga, tapi tak berhak menghubungi. Mereka tidak pernah saling mengucapkan selamat. Namun masing-masing menyimpan kebanggaan dalam diam. Seolah-olah mereka berlomba bukan untuk mengalahkan, melainkan untuk membuktikan—bahwa keputusan untuk berpisah tidak menghancurk

