Kehadiran adik kecil itu seperti setitik cahaya di dunia Sinta yang lama terasa abu-abu. Tubuh mungil dengan aroma bayi, tangisan kecil yang nyaring, dan jemari yang menggenggam kuat jarinya—semua itu perlahan menghidupkan kembali sesuatu yang sempat mati di dalam dirinya. Saat pertama kali menggendongnya, Sinta sempat terdiam. Ada getar halus di dadanya. Bukan sedih. Bukan hampa. Tapi hangat. Hangat yang asing namun menenangkan. Sejak itu, pulang ke rumah menjadi bagian favorit dalam harinya. Ia dengan sabar membantu memandikan adiknya, menyiapkan handuk kecil, meniup pelan rambut halus yang masih basah, bahkan mengganti popok tanpa mengeluh. Jika bayi itu menangis di malam hari, Sinta sering lebih dulu terbangun sebelum Mama sempat beranjak dari kamar. Ketika adiknya tersenyum tanpa g

