Damar 37

2052 Kata

Pertemuan itu terjadi lebih cepat dari yang Sinta bayangkan. Tidak ada tempat istimewa. Tidak ada suasana dramatis. Hanya sebuah kafe yang terlalu biasa untuk menjadi saksi sebuah akhir. Abizar sudah duduk lebih dulu ketika Sinta datang. Lelaki itu tersenyum seperti biasa, hangat… dan justru itu yang membuat d**a Sinta terasa semakin sesak. “Udah lama nunggu?” tanya Sinta pelan sambil duduk di depannya. Abizar menggeleng. “Baru aja.” Tidak canggung. Tidak dingin. Seolah mereka masih sama seperti sebelumnya. Dan mungkin itu yang paling menyakitkan. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Sinta menggenggam tangannya sendiri di bawah meja. “Abiz… aku mau ngomong sesuatu.” Abizar menatapnya. Dalam. Tenang. Seolah ia sudah tahu. “Aku mau kita selesai.” Kalimat itu akhirnya keluar.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN