“Aku putus sama Sarah.” jujur Rama. “Alasannya apa kak? Bukannya kalian baru jadian?” Rama tersenyum dan mengusap puncak kepala Sinta. “Tentu saja karena dia tahu aku suka kamu,,” Sinta membeku. Tangannya yang semula sibuk merapikan buku di atas meja perlahan terhenti. Ia mendongak, menatap Rama dengan sorot mata yang sulit diartikan—antara terkejut, tidak percaya, dan… takut. “Apa?” suaranya nyaris seperti bisikan. Rama masih tersenyum, senyum yang terlalu tenang untuk sebuah pengakuan yang mengguncang. “Dia tahu,” ulang Rama pelan. “Sarah bukan orang bodoh.” Sinta menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat. “Tahu… apa?” Rama tidak langsung menjawab. Tangannya yang tadi mengusap puncak kepala Sinta kini turun, jemarinya menyentuh pipi gadis itu dengan lembut, seolah itu hal

