Jam di dinding aula menunjukkan pukul tiga sore. Class meeting resmi berakhir. Keramaian mulai bubar. Siswa-siswi berjalan keluar gerbang, sebagian masih tertawa, sebagian mengeluh lelah. Sinta berdiri di dekat taman depan sekolah. Balutan di lututnya masih terlihat jelas. Tasnya sudah bertengger di bahu. Rama berdiri di sampingnya. “Ayo pulang,” kata Rama lembut. “Kakak ambil motor dulu.” Sinta mengangguk pelan. Namun sebelum Rama sempat melangkah— “Sinta.” Suara itu membuat keduanya menoleh. Abizar berdiri beberapa langkah dari mereka. Seragam olahraganya masih sedikit basah oleh keringat. Rambutnya berantakan. Ada lecet samar di telapak tangannya. Entah sejak kapan ia ada di sana. “Aku anter kamu pulang,” katanya. Kalimat itu sederhana. Tapi cukup membuat udara di antara

