Rama tidak langsung menjawab. Tangannya masih berada dalam genggaman Sinta, tapi kini terasa berbeda. Kaku. Napasnya terdengar berat. “Aku cinta sama Kak Rama…” Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Seharusnya ia marah. Seharusnya ia menolak. Seharusnya ia mengingatkan Sinta bahwa ini salah. Seharusnya. Tapi— Tidak satu pun kata itu keluar. Sebaliknya, hatinya justru terasa bergetar. Rama menutup matanya sejenak. Berusaha menenangkan sesuatu yang sejak tadi bergejolak di dadanya. “Sinta…” suaranya parau saat akhirnya keluar. Sinta menatapnya dengan mata basah. Penuh takut. Penuh harap. Dan itu menghancurkan pertahanannya. “Aku… harusnya marah,” katanya pelan. Wajah Sinta langsung pucat. Tangannya melemah, hampir terlepas. Tapi Rama justru mengeratkan genggamannya.

