Damar masih berdiri di samping kursi itu. Tangannya terlipat di d**a, namun tidak lagi terlihat tegas seperti biasanya. Ada keraguan di sana—sesuatu yang jarang sekali muncul dalam dirinya. Ia menatap Sinta lama. Seolah baru benar-benar melihatnya setelah bertahun-tahun hidup di rumah yang sama. “Dia kurusan,” gumamnya pelan. Mila mengangguk. “Dia nggak pernah bilang kalau dia capek,” jawab Mila lirih. “Tapi Mama tahu… dia selalu capek.” Damar menelan ludah. Kalimat itu terasa seperti teguran yang lembut—namun justru karena itu, lebih menohok. Ia teringat bagaimana selama ini ia selalu menganggap Sinta kuat. Selalu tenang. Selalu bisa mengurus dirinya sendiri. Ia tidak pernah berpikir bahwa mungkin… ketenangan itu bukan kekuatan, melainkan cara bertahan. Perlahan, Damar menarik

