Damar 47

2533 Kata

Langkah kaki Rama perlahan menjauh. Tidak ada suara keras. Tidak ada perpisahan dramatis. Hanya bunyi sepatu yang makin lama makin samar di atas aspal parkiran yang dingin. Dan setiap langkah itu… terasa seperti mencabik sesuatu di dalam d**a Sinta. Ia berdiri membeku di tempatnya, menatap punggung lelaki yang pernah menjadi dunianya itu—lelaki yang dulu selalu berjalan setengah langkah di depannya untuk melindungi, kini justru menjauh tanpa menoleh lagi. “Kak…” suaranya pecah, nyaris tak terdengar. Rama tidak berhenti. Tidak menoleh. Tidak sekali pun. Sinta tahu— jika Rama berhenti sekarang, ia mungkin tidak akan sanggup pergi lagi. Dan justru karena itu… ia terus berjalan. Air mata Sinta jatuh tanpa bisa ia tahan. Nafasnya tersengal, dadanya terasa seperti diremas kuat-kuat.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN