Jam di dinding kamar perawatan menunjukkan tepat pukul satu dini hari. Rumah sakit sudah tenggelam dalam suasana sunyi yang berbeda dari siang hari. Lampu lorong redup, langkah perawat terdengar jarang, dan udara terasa lebih dingin dari biasanya. Sinta masih duduk di kursinya, tubuhnya sedikit bersandar, buku di pangkuannya sudah lama tidak ia baca. Matanya lelah, tetapi ia tetap terjaga—seperti takut jika ia lengah sedikit saja, Mila akan membutuhkan sesuatu. Tiba-tiba ponselnya bergetar pelan di tangannya. Layar menyala. Satu nama muncul di bagian atas. Rama. Jantung Sinta langsung berdegup keras. Ia bahkan sempat ragu menyentuh layar, seolah takut itu hanya ilusi karena terlalu sering memikirkannya. Namun notifikasi itu nyata. Tangannya gemetar saat membuka pesan. Pesan sing

