Ruangan kembali hening setelah pengakuan itu. Sinta masih duduk di tepi ranjang, tangannya tetap digenggam Mila. Ia tidak menariknya, tidak juga menghapus air mata yang sempat jatuh. Hanya menunduk, mencoba menenangkan napas yang sejak tadi terasa tidak teratur. Bagi orang lain, mungkin momen itu tampak sederhana. Namun bagi Sinta, itu seperti membuka kotak yang selama bertahun-tahun ia paksa terkunci. “Mama tahu,” kata Mila pelan setelah beberapa saat, “kamu selalu menyimpan semuanya sendirian.” Sinta tidak menjawab. Itu memang kebiasaannya. Sejak kecil, ia belajar menjadi kuat dengan cara diam. Menjadi tenang dengan cara menahan. Dunia mengenalnya sebagai gadis dingin, padahal sebenarnya ia hanya takut jika sekali saja ia membuka diri… semua yang ditahannya akan runtuh. “Dulu… wak

