“Aku nggak pulang.” Suara Rafa tenang, tapi tegas. Kaima yang tadi masih bersandar di d**a Rafa langsung mengangkat wajahnya dengan cepat. Matanya yang tadi sayu kini berbinar, seolah mendapatkan suntikan energi baru. “Serius?” Nada suaranya berubah—lebih hidup, lebih cerah. Rafa mengangguk pelan. “Aku mau tungguin kamu.” Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat wajah Kaima langsung dipenuhi senyum lebar. “Asik!” Ia bahkan sedikit bergerak terlalu cepat hingga Rafa refleks menahan bahunya. “Pelan.” Namun Kaima malah tertawa kecil. “Pacar aku nginep.” Nada suaranya terdengar seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah besar. Rafa hanya tersenyum tipis melihat reaksinya. “Tidur di kamar aku ya?” lanjut Kaima spontan. Namun beberapa detik kemudian ia langsung menyadari ucapann

