Damar 41

1528 Kata

“Kamu anakku satu-satunya,, jangan kecewakan papa, Nak.” Damar mengulang kalimat itu pada Sinta seolah tidak ingin Sinta mengikuti jejak Rama. Sinta menunduk, hati dan pikirannya campur aduk. Kata-kata Damar terasa berat, menekan, tapi juga membekas. Ia tahu ayahnya hanya ingin yang terbaik untuknya, ingin Sinta menjadi anak yang patuh, yang tidak tersesat seperti Rama. Namun di balik kepatuhan itu, ada rasa sepi yang menumpuk—rasa ingin didengar, ingin dicintai bukan hanya sebagai anak yang “baik” di mata ayahnya. Meski begitu, Sinta menghela napas panjang, bertekad menuruti Damar. “Baik, Papa… Sinta akan berusaha,” gumamnya pelan, suara hampir tenggelam dalam kesedihannya sendiri. Ia menutup hatinya sedikit demi sedikit, menyingkirkan keinginan pribadinya, dan menegaskan pada diri send

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN