Malam itu terasa hening dan dingin. Tanpa sempat menoleh, Rama menyalakan motornya, membiarkan lampu depan menembus gelapnya jalan. Pikirannya bercampur aduk: ada rasa cemas, sedikit bersalah karena tidak bisa berpamitan pada Sinta, tapi dorongan untuk menemui Mila jauh lebih kuat. Di sepanjang perjalanan, angin malam menghempas wajahnya, seolah ingin mengusir semua keraguan. Alamat yang diberikan Mila cukup jauh, melewati jalan sempit dan beberapa tikungan yang akrab baginya sejak kecil. Meski terburu-buru, setiap detik di jalan itu terasa lambat, seakan setiap lampu jalan yang dilewati menambah ketegangan dalam dadanya. Saat motor akhirnya berhenti di depan rumah seseorang, Rama menurunkan helmnya, menatap bangunan yang tampak biasa saja di bawah cahaya lampu jalan yang remang. Hatinya

