Usai membersihkan luka di pelipis dan sudut bibir Rama, Sinta merapikan kembali kotak P3K kecil yang ia bawa. Gerakannya terlihat tenang, namun jari-jarinya sedikit gemetar. Ia berdiri, menatap Rama sejenak, lalu tersenyum tipis. “Istirahat yang benar, Kak. Jangan banyak mikir,” ucapnya lembut. Rama mengangguk pelan. “Makasih, Sin.” Sinta berbalik menuju pintu. Tangannya sempat tertahan di gagang, seolah ragu. Namun ia tetap melangkah keluar dan menutup pintu perlahan agar tak menimbulkan suara. Begitu pintu tertutup, Sinta bersandar di dinding lorong. Napasnya terhela panjang dan lemah, seakan beban besar baru saja jatuh menimpa dadanya. Tangannya meremas ujung lengan bajunya, mencoba menenangkan getaran yang tak bisa ia kendalikan. Kata-kata Rama tadi kembali terngiang. Bagaimana k

