Damar 26

3147 Kata

Damar merasa sikap Rama tak bisa lagi dibiarkan. Ada sesuatu yang jelas-jelas salah, dan sebagai ayah, ia tidak ingin menunggu sampai semuanya benar-benar terlambat. Setelah memastikan Rama sudah tertidur di kamarnya, Damar mengajak Mila masuk ke kamar mereka. Pintu ditutup pelan, namun ekspresi Damar jauh dari kata tenang. Rahangnya mengeras, sorot matanya penuh kekhawatiran sekaligus amarah yang tertahan. Mila duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang. “Mas, ini bukan sekadar jatuh atau kecelakaan biasa, kan?” suaranya lirih, namun penuh keyakinan. Damar menggeleng pelan. “Tidak mungkin. Lihat lebam di rahangnya, luka di pelipis, dan buku-buku jarinya yang memerah. Itu ciri orang habis berkelahi, bukan terpeleset di kamar mandi.” Mila memijat keningnya sendiri, mencoba menenangkan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN