Sinta akhirnya sampai pada sebuah keputusan yang terasa paling masuk akal, meski menyakitkan: ia harus mengubur perasaannya pada Rama. Tidak peduli seberapa dalam rasa itu telah tumbuh, tidak peduli seberapa lama ia memendamnya dalam diam, Sinta tahu, perasaan itu tak seharusnya dibiarkan hidup. Rama adalah kakaknya—bukan sedarah, tapi ikatan yang mengikat mereka jauh lebih kuat dari sekadar hubungan biasa. Mereka telah disahkan sebagai saudara, dan fakta itu menjadi tembok kokoh yang mustahil ia runtuhkan. Sinta duduk termenung di tepi ranjangnya, menatap langit-langit kamar yang seolah ikut membisu. Di dalam dadanya, ada pergulatan yang tak henti. Ia lelah berpura-pura biasa saja setiap kali Rama tersenyum padanya, lelah menekan getaran aneh yang selalu muncul saat lelaki itu menatapnya

