Rafa 23

2694 Kata

Rafa duduk sendiri di kursi tunggu. Punggungnya bersandar, tapi tubuhnya tidak benar-benar rileks. Kedua tangannya saling menggenggam di depan, jemarinya sesekali bergerak gelisah. Tatapannya kosong, tertuju pada lantai, tapi pikirannya jauh… berputar ke banyak hal yang tidak bisa ia hentikan. Ia menarik napas panjang. Lalu menghembuskannya perlahan. Namun dadanya tetap terasa berat. Kaima mungkin tidak mengatakan apa-apa. Tidak menangis di depannya. Tidak menuntut penjelasan berlebihan. Tidak marah. Tidak menyalahkan. Tapi Rafa tahu. Sangat tahu. Bahwa semua yang terjadi hari ini— foto-foto itu… unggahan Sofia… semua yang tersebar— mempengaruhi Kaima. Bukan hanya perasaannya. Tapi juga… tubuhnya. Rafa menutup matanya sejenak. Mengingat kembali setiap detik hari ini. C

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN