Keesokan harinya, pagi datang dengan suasana yang berbeda. Langit masih sedikit mendung, seolah menahan cahaya matahari agar tidak terlalu terang. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, dan di rumah besar itu, aktivitas dimulai lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Mila sudah siap sejak pagi. Ia memilih pakaian yang sederhana namun rapi, tidak terlalu mencolok, tapi tetap pantas untuk menjenguk seseorang di rumah sakit. Tangannya sibuk menyiapkan beberapa barang—buah, makanan ringan, dan sedikit bunga yang ia pilih sendiri. Damar keluar dari kamar dengan langkah tenang. Melihat istrinya yang sudah siap, ia menghela napas kecil. “Kamu serius bawa sebanyak itu?” tanyanya. Mila menoleh, lalu tersenyum tipis. “Namanya juga menjenguk, masa tangan kosong.” Damar tidak membantah. Ia h

