Sinta mondar-mandir kecil di depan pintu gerbang, jemarinya saling bertaut menahan gelisah. Angin malam berhembus dingin, tapi keringat dingin justru mengalir di pelipisnya. Jarum jam sudah menunjuk pukul sepuluh malam, namun bayangan Rama belum juga terlihat. Ia kembali melirik layar ponsel. Pesan-pesannya hanya berbalas centang dua. Tidak ada tanda-tanda dibaca, apalagi dibalas. Dadanya terasa semakin sesak. “Kenapa belum pulang juga, Kak…” gumamnya lirih. Biasanya, Rama tak pernah pulang selarut ini tanpa kabar. Sekalipun sedang sibuk, laki-laki itu akan menyempatkan diri memberi pesan singkat. Tapi malam ini berbeda. Terlalu sunyi, terlalu mencurigakan. Sinta menggigit bibir bawahnya, berusaha menepis pikiran buruk yang mulai menyeruak. Namun bayangan tentang geng motor, perkelahia

