Semangat Rama perlahan kembali hadir. Saat ia sempat pasrah dengan hasil nilai kelulusan nanti, kini hatinya justru dipenuhi tekad untuk bangkit. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya—sebuah dorongan kuat yang tak lagi datang dari ambisi semata, melainkan dari rasa cinta dan tanggung jawab. Ia ingin menjadi salah satu yang terbaik. Ia ingin melihat sang adik, Sinta, bangga padanya. Setiap pagi, Rama bangun lebih awal dari biasanya. Jam weker yang dulu sering dimatikan berkali-kali, kini nyaris tak pernah berbunyi lama. Ia bangkit, merapikan tempat tidur, lalu duduk di meja belajarnya yang sederhana. Buku-buku yang sempat berdebu kini kembali tersusun rapi, penuh coretan dan penanda. Ada hari-hari ketika lelah menyergap, ketika kepalanya terasa berat oleh rumus dan teori. Namun setiap k

