Rama menolak ajakan teman-teman satu gengnya, dengan alasan ada acara keluarga. Padahal yang ia lakukan justru pulang bersama Sinta. Motornya rusak. Itu alasan yang ia lontarkan singkat, tanpa memberi celah untuk ditanya lebih jauh. Sejak pagi ia sudah berangkat menggunakan mobil yang biasa dipakai Sinta ke sekolah. Duduk dibalik kemudi, dengan wajah datar seolah semua ini hal biasa. Sinta yang duduk di kursi penumpang hanya sesekali melirik, merasa asing dengan situasi itu, tapi juga… entah kenapa, ada rasa hangat yang diam-diam merayap di dadanya. Mobil itu kembali memasuki halaman rumah menjelang sore. “Tumben mas Rama mau naik mobil,” gumamnya heran. Rama hanya menutup pintu tanpa menjawab. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk ukuran Rama yang biasanya selalu terlihat tergesa da

