Pintu rumah terbuka dengan sedikit hentakan. Rama masuk dengan napas masih tersengal, wajahnya tegang sejak tadi di perjalanan. Kunci mobil bahkan masih tergenggam di tangannya saat ia melangkah cepat menuju ruang tengah. Begitu melihat sosok yang dicarinya, langkahnya terhenti. Sinta duduk santai di sofa. Sepiring nasi dan lauk di tangannya, sendok bergerak cepat seolah ia benar-benar kelaparan. Ponselnya bertumpu di paha, layar menyala menampilkan sesuatu yang membuat sudut bibirnya sesekali terangkat. Rama menghembuskan napas panjang. Lega. Sinta baik-baik saja. Namun lega itu hanya bertahan sepersekian detik. Karena Sinta hanya menoleh sekilas. “Udah pulang?” tanyanya datar. Tanpa menunggu jawaban, ia kembali menyuap makanannya. Rama berdiri mematung beberapa saat. Dadanya m

