Sabtu sore itu suasana toko bunga Kaima jauh lebih ramai dari biasanya. Aroma bunga segar memenuhi seluruh ruangan. Mawar, lily, tulip, dan baby breath tertata rapi di berbagai sudut toko. Beberapa pelanggan datang silih berganti memilih bunga, sementara dua pegawai Kaima terlihat sibuk membungkus pesanan. Di balik meja kerja, Kaima berdiri dengan apron cokelat muda yang sedikit kotor oleh serpihan daun. Rambutnya diikat asal di belakang kepala, beberapa helai bahkan jatuh ke pipinya. Ia sedang merangkai bunga mawar putih ketika bel pintu toko berbunyi. Ting. Kaima menoleh sekilas. Awalnya ia hanya melihat sekilas sosok pria tinggi yang baru masuk, tapi begitu matanya benar-benar menangkap wajah itu, tangannya langsung berhenti. “Rafa?” Suaranya cukup keras hingga salah satu pegawa

