Keheningan di lorong kantor itu terasa panjang. Terlalu panjang. Sofia menatap Rafa tanpa berkedip, menunggu jawaban yang tak kunjung datang. Matanya mencari sesuatu di wajah pria itu—penyangkalan, kemarahan, atau bahkan sekadar kebingungan. Apa saja. Namun yang ia lihat justru Rafa yang tetap berdiri tenang dengan wajah yang sulit dibaca. Dan bagi Sofia, ketenangan itu terasa seperti tamparan. Sofia tertawa kecil, pelan, tapi penuh rasa pahit. “Diam lagi.” Ia menggeleng pelan. “Kamu selalu begitu kalau nggak mau menjawab.” Rafa akhirnya berbicara dengan nada datar. “Sofia.” Namun Sofia mengangkat tangannya, menghentikannya. “Jangan.” Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Beberapa karyawan masih berlalu-lalang di lorong itu, tapi mereka jelas beru

