Di meja sudut restoran, Kaima akhirnya duduk kembali bersama tiga temannya. Begitu ia menarik kursi, salah satu dari mereka langsung mencondongkan tubuh ke depan dengan wajah penuh rasa ingin tahu. “Kai… itu tunangan kamu kan?” Kaima bahkan tidak ragu sedikit pun. Ia mengangguk santai sambil mengambil gelas air di depannya. “Iya.” Teman-temannya langsung saling pandang. “Ganteng banget sih,” gumam salah satu dari mereka. Yang lain langsung menimpali dengan nada setengah kesal, “Ganteng sih… tapi red flag banget, gila.” Kaima mengangkat alisnya sedikit. “Kenapa?” Temannya menunjuk pelan ke arah meja Rafa yang tidak terlalu jauh dari mereka. “Udah tahu mau tunangan masih makan siang sama cewek lain.” Yang lain ikut mengangguk. “Parah sih itu.” Kaima justru tersenyum kecil. Ia

