Pintu lift meluncur membuka, langsung menuju ke jantung ruang utama yang telah diselimuti kegelapan total.
Satu per satu, lilin hitam di sekeliling ranjang berukuran raja mulai bernyala (sebuah ritual penanda yang telah disiapkan Kaelen), memancarkan cahaya jingga redup yang memotong bayangan.
Rhea melangkah masuk, bunyi tumitnya berdentang perlahan di marmer, seperti detak jam yang menghitung mundur.
Kaelen berdiri di tengah ruangan, sosoknya serupa patung dewa yang diukir dari keinginan. Kemeja putihnya terbuka sepenuhnya, hanya menyisakan kain hitam formal yang melekat erat di pinggulnya.
Matanya, berwarna abu-abu baja yang membeku, dipenuhi janji yang mengerikan, sebuah gema dari kekuasaan yang tak terucapkan.
“Selamat datang pulang, Ratu,” katanya, suara rendah yang kasar, terbebani hasrat yang telah lama tercekik sejak mobil berjalan.
Rhea tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Matanya hanya tertuju pada Kaelen, dan dengan gerakan yang disengaja lambatnya, ia menurunkan resleting gaunnya sendiri.
Kain hitam itu jatuh ke lantai, diam dan tak bersuara, serupa beban dosa yang dilepaskan.
Di baliknya, tidak ada pelindung.
Tubuh polosnya, sebuah kanvas yang belum selesai dilukis, masih dihiasi memar dan tanda gigitan dari badai hari-hari sebelumnya.
Kaelen melangkah mendekat, jari-jarinya langsung menemukan tanda paling gelap di ceruk leher Rhea.
“Masih ada ruang kosong,” gumamnya, suaranya mengandung keserakahan yang purba. “Malam ini aku akan memastikan tidak ada lagi sejengkal pun kulitmu yang belum ku klaim.”
Ia mengangkat Rhea dengan kekuatan yang mudah, melemparnya ke ranjang; punggung Rhea ambruk ke kasur empuk dengan suara teredam.
Kaelen naik menindih, tangannya meraih dasi sutra hitam yang sudah menanti, mengikat kedua pergelangan Rhea ke kepala ranjang. Sebuah ritual penyerahan.
Rhea menarik napas tajam, tetapi tak ada perlawanan. Itu adalah kepastian.
“Kaelen—”
“Diam,” potongnya, suara dingin yang diselimuti bara api.
Ia menunduk, sentuhannya langsung berubah menjadi pemaksaan yang membekas pada kulit Rhea. Reaksi Rhea adalah lengkungan punggung dan desahan tajam yang tak tertahan.
Jejak kecil berupa mahkota merah muncul di kulit itu. Kaelen membalasnya dengan lidah, seperti mencicipi esensi dari kemenangan.
“Kau memilihku malam ini,” bisiknya, suaranya serak di kulit Rhea. “Bukan bayangan masa lalu. Bukan tim lamamu. Bukan siapa-siapa. Hanya aku. Dan aku akan mengukir ingatan itu di setiap tarikan napasmu.”
Ia bergerak lebih rendah, klaimnya meninggalkan jejak-jejak baru di setiap lekukan tubuh Rhea.
Ketika mencapai inti tubuh Rhea, ia memisahkannya, menatap langsung ke dalam cahaya lilin yang redup.
“Masih basah oleh kehadiranku,” gumamnya puas. “Artinya kau merasakanku di setiap langkahmu.”
Sentuhannya datang tanpa peringatan—sebuah hukuman yang tajam dan tak terhindarkan.
Rhea menjerit panjang, pinggulnya terangkat dalam penyerahan, tetapi tangan Kaelen menahannya kuat-kuat.
Ia tidak memberi ampun, sentuhannya bagai badai yang memaksa Rhea mencapai klimaks pertama dalam hitungan menit, cairan kebahagiaan membasahi dagu Kaelen.
Namun, itu baru permulaan.
Kaelen bangkit, melepaskan celananya, menunjukkan keinginannya yang telah mengeras maksimal.
Ia memasuki Rhea dalam satu dorongan tunggal yang brutal (tanpa kelembutan, tanpa persiapan).
Rhea menjerit lagi; rasa sakit dan kenikmatan adalah kembar siam yang tak terpisahkan.
“Kau milikku,” geram Kaelen di telinganya, setiap dorongan adalah cap kepemilikan yang dipatri. “Ucapkan.”
“Aku milikmu—” erang Rhea, air mata membasahi sisi wajahnya. “Hanya milikmu… Rajaku—”
Ia terus memompa, ritme ganas, ranjang bergoyang keras, kepala ranjang beradu dengan dinding.
Rhea mencapai ekstasi kedua, ketiga, bahkan keempat kalinya; setiap kali lebih dahsyat, tubuhnya kejang hebat di bawah d******i Kaelen.
Akhirnya, Kaelen mencapai puncak gelombangnya, dorongan terakhir mencapai pangkal, melepaskan segalanya di dalam Rhea dengan geraman panjang yang terdengar seperti proklamasi kemenangan.
Ia ambruk di atas Rhea, napasnya tersengal, namun tidak menarik diri.
Tetap di dalam, seolah menolak kehilangan koneksi itu, sedetik pun.
Setelah beberapa menit keheningan yang penuh makna, ia melepaskan ikatan dasi di pergelangan Rhea, lalu membalik tubuhnya (Rhea kini telungkup, wajah di bantal, pinggul terangkat).
Babak kedua badai itu dimulai sebelum Rhea sempat menarik napas lega.
Malam itu berlanjut hingga fajar menyingsing; posisi berganti-ganti, perabot terguncang, bahkan cermin retak karena tekanan gairah.
Rhea kehilangan suaranya karena terlalu banyak meneriakkan nama Kaelen.
Kaelen kehilangan kendali karena terlalu banyak menyaksikan Rhea menyerah sepenuhnya.
Saat matahari akhirnya terbit, mereka berdua tergeletak di lantai (kasur telah terlempar entah ke mana).
Rhea berada dalam pangkuan Kaelen, tubuhnya adalah peta baru yang penuh klaim (tidak ada lagi kulit polos dari leher hingga kaki).
Kaelen memeluknya erat, jari-jarinya mengusap punggung Rhea yang basah oleh keringat.
“Kau tidak akan pernah menyesal memilihku,” bisiknya di rambut Rhea.
Rhea mengangguk lemah, suaranya hilang, namun matanya dipenuhi kepastian yang kokoh.
“Aku sudah tidak punya penyesalan lagi,” bisiknya serak. “Hanya kau.”
Kaelen menatapnya lama, mata abu-abu baja itu bergetar sesaat (bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena sebuah emosi yang lebih dalam).
Ia mengangkat tubuh Rhea dengan kelembutan yang mengejutkan, membawanya ke sofa.
Lalu ia naik menindihnya lagi, namun kali ini tidak langsung masuk.
Ia hanya menatap, jari-jarinya mengusap bibir Rhea yang bengkak.
“Kau tahu kenapa aku tidak pernah benar-benar takut pada FBI?” tanyanya pelan, suara rendah seperti sebuah doa.
Rhea menggeleng lemah.
“Karena mereka bukan juru selamat,” lanjut Kaelen, matanya menjadi kian dingin. “Mereka adalah musuh dalam selimut negara ini. Dan Maxwell… mentor kesayanganmu itu… adalah yang paling busuk di antara mereka.”
Rhea menahan napas.
Kaelen mengambil tablet dari meja samping, membuka sebuah file terenkripsi sambil tetap menindih Rhea (keinginannya masih keras menekan perut Rhea, tetapi kali ini ia hanya berbicara).
“Maxwell bukan sekadar agen biasa,” katanya dingin. “Dia adalah Kepala Divisi Hantu, unit hitam yang tidak pernah ada di dokumen resmi.
Dia mengatur perdagangan anak imigran ke kartel atas nama ‘data intelijen’.
Dia yang menjual heroin Afghanistan melalui pos militer.
Dia yang membakar gudang Detroit 2019, 47 orang mati hidup-hidup, termasuk tiga agen yang tahu terlalu banyak.”
Ia memperlihatkan foto-foto yang mengejutkan: Maxwell berjabat tangan dengan seorang pria gelap di Swiss.
Rekaman suara Maxwell yang dingin memerintahkan eksekusi seorang jurnalis.
Transfer jutaan dolar ke rekening pribadinya di Cayman.
“Dan kau,” lanjut Kaelen, jari-jarinya menyentuh pipi Rhea yang kini basah oleh air mata, “adalah proyek terakhirnya. Operasi ‘Ratu Safir’. Bukan untuk menangkapku. Melainkan untuk menggantikanku. Dia ingin menggunakanmu untuk mengambil alih jaringanku, lalu membuangmu, atau lebih buruk, menjualmu kepada para senator tua yang menjadi sponsornya.”
Rhea menutup mulut dengan tangan, tubuhnya gemetar hebat dalam keputusasaan.
Kaelen meletakkan tablet, lalu memeluknya erat (pelukan yang untuk pertama kalinya terasa… benar-benar melindunginya).
“Aku ingin kau tahu ini sekarang,” bisiknya di telinga Rhea. “Supaya kau mengerti, kau tidak mengkhianati negara. Kau mengkhianati monster yang menyalahgunakan lencana. Dan kau memilih sisi yang benar.”
Rhea menatapnya lama, air mata mengalir tanpa suara.
Lalu ia mengangkat tangannya, menyentuh wajah Kaelen, jari-jarinya gemetar.
“Aku sudah memilihmu sejak malam pertama kau mengambilku,” bisiknya. “Dan sekarang aku tahu… aku memilih satu-satunya orang yang jujur di hidupku.”
Kaelen menciumnya pelan (ciuman yang kini dipenuhi rasa hormat, bukan lagi nafsu).
Lalu ia menarik diri sedikit, matanya kembali gelap.
“Maxwell akan mati,” katanya dingin. “Tapi bukan oleh tanganku. Melainkan oleh tanganmu sendiri. Aku akan memberimu kesempatan itu.”
Rhea mengangguk tanpa ragu, air matanya sudah mengering, digantikan oleh tekad.
“Baik,” jawabnya, suaranya baru (dingin, tegas, lahir dari abu Bella Ward yang telah terbakar habis). “Aku yang akan mengakhiri dia.”
Kaelen tersenyum (senyum penuh kebanggaan yang diselimuti kegilaan).
“Itu adalah Ratu-ku.”
Ia menunduk lagi, mencium leher Rhea tepat di tanda gigitan paling dalam.
“Sekarang tidur,” bisiknya. “Besok kita mulai merencanakan. Dan malam ini…”
“Malam ini aku hanya ingin kau merasakan aku lagi,” gumam Kaelen di bibirnya. “Supaya kau ingat, kau sudah berada di rumah.”