Bab 8: Garis yang Terlalu Dalam
Markas Sementara FBI – Ruang Aman Hotel Peninsula, malam hari
Layar monitor besar menampilkan wajah Rhea yang direkam kamera tersembunyi di koridor penthouse: leher penuh hickey merah tua, langkah sedikit pincang, senyum kecil yang tidak pernah ada di wajah Bella Ward.
Di meja rapat, tiga orang menatap layar itu dengan ekspresi berbeda.
Maxwell (mentor Rhea, handler langsung): wajahnya keras, rahang menegang.
Agent Park (analis teknis): alis terangkat, tidak bisa menyembunyikan rasa kagum sekaligus khawatir.
Director Hale (pimpinan operasi): tangannya mengepal di atas meja, suaranya dingin seperti es.
“Dia sudah tidak mengirim sinyal selama 11 hari,” kata Hale. “Terakhir kali kontak, hanya satu burst data berisi sidik jari Kaelen Thorne. Sejak itu, nol. Nol laporan. Nol koordinat. Nol apa pun.”
Maxwell menatap foto close-up leher Rhea yang baru masuk tiga jam lalu.
Tanda gigitan itu terlalu jelas. Terlalu pribadi.
“Dia masih di dalam,” kata Maxwell pelan. “Dia berhasil. Dia sudah di ranjang Thorne.”
“Dia seharusnya keluar setelah mendapatkan akses kantor pribadi,” bentak Hale. “Ini bukan misi tidur dengannya sampai hamil!”
Agent Park mengetik cepat, membuka rekaman audio terakhir yang berhasil diretas dari penthouse.
Suara Rhea terdengar samar di latar belakang, napas tersengal, diikuti suara Kaelen yang rendah dan posesif:
“…kau milikku sekarang… sepenuhnya…”
Ruangan hening selama lima detik.
Maxwell memukul meja hingga gelas kopi terjungkal.
“Dia terlalu dalam,” katanya, suara bergetar karena marah dan… rasa bersalah. “Aku yang melatihnya. Aku yang mengizinkan identitas total. Aku yang bilang ‘lakukan apa saja yang perlu’. Dan sekarang dia… dia bahkan tidak terdengar seperti Bella lagi.”
Hale menatap Maxwell tajam.
“Artinya apa?”
“Artinya dia sudah bukan agen kita lagi,” jawab Maxwell pelan. “Dia Rhea sekarang. Rhea Thorne.”
Agent Park membuka foto terbaru dari paparazzi: Rhea keluar dari mobil Kaelen di premiere ShadowVerse malam ini.
Gaun hitam backless, liontin safir hitam besar di lehernya (liontin yang hanya dipakai oleh “ratu” Kaelen).
Di pergelangan tangannya: gelang berlian dengan ukiran kecil “K.T.” yang terlihat jelas.
Director Hale menghela napas panjang, lalu menekan tombol interkom.
“Siapkan tim ekstraksi. Kode merah. Kita tarik dia malam ini juga, mau dia suka atau tidak.”
Maxwell berdiri tiba-tiba, suaranya keras.
“Tidak. Kalau kita tarik paksa sekarang, Thorne akan tahu ada operasi. Dia akan membunuhnya di tempat. Atau lebih buruk… dia akan menyimpannya sebagai trofi hidup.”
Hale menatapnya dingin.
“Jadi saranmu apa, Agent? Biarkan dia terus tidur dengan musuh sampai dia benar-benar lupa siapa dia?”
Maxwell menatap layar lagi.
Wajah Rhea di foto itu tersenyum (senyum yang dulu hanya Bella berikan saat berhasil menangkap target).
Sekarang senyum itu ditujukan pada Kaelen Thorne.
“Aku akan masuk sendiri,” kata Maxwell akhirnya. “Satu pertemuan. Satu kesempatan terakhir untuk mengingatkannya siapa dia sebenarnya. Kalau dia masih menolak… kita aktifkan protokol pembakaran.”
Hale mengangguk pelan. “24 jam. Kalau dia tidak kembali ke jalur, kita anggap Bella Ward sudah mati. Dan Rhea Thorne jadi target eliminasi.”
Maxwell mengambil jaketnya, matanya tidak lepas dari layar.
“Dia belum mati,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Belum.”
Tapi saat ia berjalan keluar ruangan, satu kalimat terakhir dari rekaman audio tadi masih bergema di kepalanya,
“…aku juga kecanduan…”
Maxwell tidak yakin apakah Bella Ward masih bisa diselamatkan.
***
Rooftop Hotel Abandoned – Distrik Pelabuhan, 02.17 pagi
Angin malam menusuk tulang.
Rhea berdiri di tepi atap, gaun hitam ketat yang dipakainya di premiere masih menempel di tubuh, tapi liontin safir hitam itu sudah ia lepas dan simpan di saku.
Di tangan kanannya, pistol kecil Glock 43 yang disembunyikan di thigh holster.
Di telinga kirinya, earpiece mati yang dulu dipakai untuk lapor ke tim.
Maxwell muncul dari bayangan tangga darurat, jaket hitam, wajah penuh bekas kurang tidur.
Ia berhenti lima meter darinya, tangan terangkat menunjukkan tidak bersenjata.
“Hai, Bella,” sapanya pelan, suara serak karena terlalu banyak rokok dan terlalu sedikit harapan.
Rhea tidak menoleh.
“Jangan panggil aku begitu,” jawabnya dingin. “Bella sudah mati.”
Maxwell melangkah lebih dekat.
“Aku lihat liontinnya tidak di lehermu. Bagus. Artinya masih ada bagian dari dirimu yang ingat siapa kau sebenarnya.”
Rhea akhirnya menoleh.
Mata mereka bertemu di bawah lampu neon merah yang berkedip-kedip.
“Bagian itu sudah terkubur di ranjang Kaelen sejak seminggu lalu,” katanya datar. “Bersama darah keperawananku.”
Maxwell menelan ludah.
“Aku tidak datang untuk menghakimi. Aku datang untuk menawarkan jalan keluar. Satu kali. Sekarang. Tim ekstraksi sudah standby di lantai bawah. Kita bisa keluar dari kota ini malam ini juga. Identitas baru. Hidup baru. Kau bebas.”
Rhea tertawa kecil (tawa yang terdengar terlalu mirip dengan Kaelen).
“Bebas?” ulangnya. “Kau tahu apa yang Kaelen lakukan kalau aku menghilang malam ini? Dia akan membakar kota ini sampai menemukanku. Dan kalau dia menemukanku…”
Ia menatap Maxwell lurus. “Dia tidak akan membunuhku. Dia akan mengurungku. Selamanya. Dan aku… aku tidak yakin lagi aku akan melawan.”
Maxwell melangkah lebih dekat lagi, suaranya memohon.
“Kau ingat pelatihan kita? Kau ingat janji kita? ‘Misi dulu, hati kemudian.’ Kau pernah bilang kau tidak akan pernah jatuh cinta pada target. Kau bilang kau lebih kuat dari ini.”
Rhea menatapnya lama.
Lalu ia mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan gelang berlian dengan inisial “K.T.” yang tidak pernah ia lepas sejak malam itu.
“Aku lebih kuat,” katanya pelan. “Tapi dia lebih kuat dariku. Dan aku… aku sudah menyerah pada kekuatannya.”
Maxwell mengepalkan tangan.
“Kalau kau tetap di sana, kau akan mati, Rhea. Atau lebih buruk. Kau akan jadi seperti Elea. Dibuang saat dia bosan.”
Rhea tersenyum tipis (senyum yang penuh luka dan kepastian).
“Elea dibuang karena dia takut. Aku tidak takut. Aku menginginkannya. Semua bagian gelapnya. Semua kekejamannya. Aku menginginkan dia seperti dia menginginkanku.”
Ia melangkah mendekat ke Maxwell, jarak mereka tinggal satu meter.
“Pergi, Max,” bisiknya. “Katakan pada tim bahwa Bella Ward sudah mati. Karena memang benar. Yang hidup sekarang hanya Rhea Thorne.”
Maxwell menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya: liontin safir hitam cadangan (yang dulu dipakai Bella sebagai tanda darurat).
“Kalau suatu hari kau sadar ini salah,” katanya serak, meletakkan liontin itu di lantai di antara mereka. “Pakai ini. Aku akan datang menjemputmu, apa pun risikonya.”
Rhea menatap liontin itu selama lima detik penuh.
Lalu ia menginjaknya dengan hak sepatu tingginya (kaca safir pecah berkeping-keping di bawah tumitnya).
“Aku tidak akan pernah memakainya lagi,” katanya dingin. “Karena aku sudah punya mahkota yang baru.”
Maxwell mundur selangkah, wajahnya pucat.
“Selamat tinggal, Bella,” bisiknya.
Rhea tidak menjawab.
Ia hanya berbalik, berjalan menuju tangga darurat lain (menuju mobil Kaelen yang sudah menunggu di bawah).
Saat ia turun, angin malam membawa suara terakhir Maxwell yang terbawa angin,
“…aku minta maaf.”
Rhea tidak menoleh lagi.
Di dalam mobil Bentley hitam, Kaelen menunggu dengan pintu terbuka.
Saat Rhea masuk, Kaelen langsung menariknya ke pangkuannya, menciumnya dalam-dalam, tangannya merayap ke bawah gaun tanpa malu.
“Kau terlambat lima menit,” gumamnya di bibirnya. “Aku hampir naik mencarimu.”
Rhea tersenyum di ciumannya, jari-jarinya mencengkeram kerah jas Kaelen.
“Aku hanya membuang sampah terakhir dari masa lalanku,” bisiknya.
Kaelen menggeram puas, menarik Rhea lebih erat.
“Bagus. Karena mulai malam ini, kau tidak punya masa lalu lagi. Hanya aku.”
Mobil melaju meninggalkan atap kosong itu.
Di lantai beton, serpihan safir hitam berkilauan di bawah lampu neon (sisa-sisa terakhir Bella Ward yang akhirnya benar-benar mati malam ini).
Dan Rhea Thorne lahir sepenuhnya, di pelukan monster yang ia pilih sendiri.