.
Bab 7: Perjamuan di Atas Sutra
Penthouse Kaelen Thorne – Pagi yang sama, pukul 10.23
Pintu mahoni itu berayun tanpa suara, mengizinkan sang penguasa memasuki peraduannya kembali.
Kaelen melangkah masuk membawa nampan perak yang berkilau ditimpa bias matahari pagi: kopi hitam sepekat malam, croissant yang menguarkan aroma mentega hangat, stroberi merah darah, dan semangkuk krim yang seputih awan. Ia hanyalah sebuah patung hidup yang dipahat sempurna, mengenakan celana jogger hitam yang menggantung rendah di pinggul, sementara dadanya telanjang—sebuah kanvas kulit tembaga yang kini dihiasi jejak-jejak merah samar, bukti dari badai gairah yang mencakar malam sebelumnya.
Di tengah lautan seprai sutra hitam, Rhea terbaring laksana dewi yang baru saja jatuh dari Olympus. Selimut hanya menutupi hingga pinggang, membiarkan bahu dan lekuk lehernya menyapa udara dingin pendingin ruangan. Kulit pualamnya tak lagi polos; kini terlukis peta kepemilikan berwarna lembayung dan mawar. Rambutnya adalah kekacauan yang indah, bibirnya merekah bengkak, dan kelopak matanya berat oleh sisa-sisa mimpi dan kelelahan yang manis.
Kaelen meletakkan nampan di nakas, lalu duduk di tepi ranjang. Gravitasi seolah berpusat padanya. Tatapannya menelusuri siluet Rhea dengan intensitas yang mampu membakar oksigen.
"Buka matamu," perintahnya, suaranya bukan lagi bentakan, melainkan bariton rendah yang membelai gendang telinga, sehalus beludru namun menuntut kepatuhan mutlak. "Isi tenagamu. Aku belum selesai memuja tubuhmu."
Rhea bergerak pelan, otot-ototnya protes dalam harmoni nyeri yang nikmat. "Tubuhku... terasa seperti baru saja melewati perang."
Kaelen menyunggingkan senyum tipis, sebuah kurva penuh dosa. Jemarinya menyyingkap selimut, membiarkan pandangannya menikmati mahakarya yang telah ia klaim. Ia mengambil satu buah stroberi, membenamkannya ke dalam krim, lalu mendekatkannya ke bibir Rhea.
"Perang yang kau menangkan," bisiknya. "Makan."
Rhea membuka bibir, menerima suapan itu. Rasa manis dan asam meledak di lidahnya, berpadu dengan krim yang lembut. Setetes sari buah merah meluncur turun ke dagunya, kontras yang menggoda di atas kulit pucat.
Tanpa memutus kontak mata, Kaelen menunduk. Bukan dengan tisu, ia membersihkan tetesan itu dengan lidahnya—sebuah sapuan lambat yang mengirimkan sengatan listrik ke sepanjang tulang punggung Rhea.
"Manis?" tanyanya, suaranya parau.
Rhea hanya mampu mengangguk, terhipnotis oleh badai abu-abu di mata pria itu.
Kaelen mengambil stroberi berikutnya. Kali ini, ia tidak menyuapkannya. Ia mengoleskan krim dingin itu tepat di lekuk leher Rhea, di atas nadi yang berdenyut kencang.
Rhea menahan napas, dadanya naik turun dengan ritme yang memburu.
"Kaelen..."
"Sstt," desisnya, lalu menunduk, menyesap krim itu dari kulit Rhea dengan gerakan lambat yang menyiksa sekaligus memabukkan. Bibirnya bermain di sana, menggoda titik-titik sensitif hingga Rhea melengkungkan punggungnya, sebuah tawaran tanpa kata.
"Kau candu, Rhea. Racun paling mematikan yang kuminum dengan sukarela," gumam Kaelen di kulit lehernya. Tangannya merambat turun, menelusuri pinggang, membakar setiap inci kulit yang disentuhnya.
"Dan kau... kau adalah badai yang menghancurkanku," balas Rhea lirih, jemarinya tanpa sadar membenam ke dalam rambut Kaelen, menariknya lebih dekat.
Kaelen mengangkat wajahnya, menatap Rhea dengan kelaparan yang purba. Tidak ada lagi keraguan di sana, hanya hasrat yang telanjang dan menuntut. Ia menindih tubuh Rhea perlahan, menyatukan kembali jiwa mereka dalam tautan fisik yang mendalam.
Tidak ada rasa sakit kali ini, hanya gelombang panas yang melelehkan akal sehat. Setiap sentuhan adalah puisi, setiap desahan adalah melodi. Mereka bergerak dalam ritme lambat yang menyiksa, seolah waktu telah berhenti dan dunia menyempit hingga hanya menyisakan mereka berdua di atas ranjang itu.
"Katakan kau milik siapa," tuntut Kaelen di antara ciuman yang memburu, napasnya panas menyapu wajah Rhea.
"Milikmu," desah Rhea, menyerahkan sisa pertahanannya. "Mutlak milikmu, King."
Jawaban itu adalah bahan bakar yang meledakkan segalanya. Mereka tenggelam dalam ekstase yang mematikan logika, melambung tinggi hingga menyentuh nirwana, sebelum akhirnya hempas kembali ke bumi dalam pelukan yang erat dan basah oleh keringat.
Kaelen tidak menjauh. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Rhea, menghirup aroma wanita itu dalam-dalam, seolah itu adalah oksigen terakhir di bumi.
"Mulai hari ini," bisiknya posesif, jemarinya mengusap punggung Rhea, menggambar pola abstrak di sana. "Kau tidak akan melangkah keluar dari bayang-bayangku. Kau terikat padaku, Rhea. Oleh takdir, dan oleh pilihanku."
Rhea memejamkan mata, merasakan detak jantung Kaelen yang berpacu senada dengan miliknya. "Aku tidak berencana lari," bisiknya, sebuah pengakuan jujur yang mengejutkan dirinya sendiri.
Kaelen meraih remote di nakas. Tirai tebal turun perlahan, menghalau matahari, mengembalikan kamar itu ke dalam keremangan yang intim. Hanya ada mereka, dua jiwa yang rusak, yang saling menemukan utuh dalam kehancuran satu sama lain.
Denting halus lift memecah keheningan koridor.
Langkah kaki berhak tinggi menggema di lantai marmer, setiap ketukannya menyuarakan amarah yang tertahan.
Elea Seraph melangkah masuk, kunci cadangan terasa dingin di telapak tangannya yang berkeringat. Firasatnya menjerit, namun hatinya menolak percaya.
Namun, saat ia tiba di ambang pintu kamar utama yang terbuka separuh, realitas menghantamnya lebih keras dari tamparan fisik mana pun.
Pemandangan di hadapannya adalah sebuah lukisan kekacauan yang indah sekaligus menyakitkan. Rhea terbaring di sana, di ranjang sang raja, terbungkus selimut sutra yang nyaris tak menyembunyikan bahu telanjangnya yang penuh jejak asmara.
Ruangan itu berbau kesturi, aroma penyatuan dua manusia yang begitu pekat hingga menyesakkan d**a Elea.
Kaelen berdiri di sisi ranjang, mengenakan kembali celana jogger-nya dengan santai. Ia menoleh, wajahnya datar tanpa penyesalan, seolah kehadiran Elea hanyalah debu yang mengganggu pemandangan.
"Elea," suaranya dingin, setajam silet. "Kau melanggar privasiku."
Elea terpaku. Lidahnya kelu. Matanya menyapu Rhea yang kini membuka mata perlahan, lalu kembali menatap Kaelen. Bukti itu terpampang nyata: goresan di d**a Kaelen, tanda kemerahan di leher Rhea, dan atmosfer intim yang tak bisa dipalsukan.
"Kau..." suara Elea pecah, air mata menggenang di pelupuk matanya. "Kau memilih dia? Seorang penyusup? Setelah semua kesetiaanku, Kaelen?"
Kaelen berjalan mendekat, auranya menggelap. "Loyalitas adalah kewajibanmu, Elea. Bukan mata uang untuk membeli ranjangku."
Rhea bergerak di atas kasur, menarik selimut menutupi dadanya, namun membiarkan lehernya yang bertanda terekspos jelas. Ia menatap Elea, bukan dengan rasa bersalah, melainkan dengan ketenangan seorang pemenang.
"Selamat pagi, Elea," sapa Rhea, suaranya serak sisa gairah. Senyum tipis terukir di bibirnya yang bengkak. "Maaf, kami sedikit... sibuk."
Wajah Elea memerah padam. "Dasar wanita ular!" teriaknya, suaranya melengking penuh luka. "Kau pikir kau siapa? Kau hanya mainan barunya! Dia akan membuangmu begitu bosan, sama seperti yang lain!"
Rhea tertawa kecil, tawa yang terdengar bagai lonceng kematian bagi harapan Elea.
"Mainan?" Rhea memiringkan kepalanya, tatapannya menantang. "Lihat baik-baik, Elea. Apakah pria seperti Kaelen Thorne akan membiarkan 'mainan' meninggalkan jejak di tubuhnya seperti ini? Ini bukan permainan. Ini penaklukan."
Elea maju selangkah dengan tangan terkepal, namun Kaelen sudah berdiri di hadapannya, menjadi tembok pemisah yang tak tertembus.
"Cukup," titah Kaelen. Suaranya rendah, namun getarannya meretakkan keberanian Elea. "Kau boleh cemburu. Tapi kau dilarang menghina apa yang telah kuklaim sebagai milikku."
"Milikmu?" Elea tercekat, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya yang dipoles sempurna. "Jadi... aku tidak berarti apa-apa?"
"Kau adalah aset yang berharga, Elea. Tapi kau bukan ratu di istana ini," jawab Kaelen tanpa belas kasih. "Kamar tamumu di lantai bawah sudah dikosongkan. Zaid menunggumu di lobi. Pergilah sebelum aku kehilangan sisa kesabaranku."
Elea menatap pria yang dicintainya itu dengan pandangan hancur. Ia tahu, di mata badai abu-abu itu, tidak ada lagi tempat baginya.
Ia menoleh sekilas pada Rhea—yang kini bersandar nyaman di bantal raja—lalu berbalik. Suara hak sepatunya yang menjauh terdengar seperti elegi patah hati yang menyedihkan.
Pintu lift tertutup, membawa pergi masa lalu.
Kaelen berbalik, kembali menghampiri ranjang, menghampiri masa depannya yang berbahaya. Ia naik kembali ke atas kasur, mengurung Rhea di bawah kungkungannya.
"Gangguan sudah disingkirkan," bisiknya di depan bibir Rhea. "Dunia luar sudah tidak ada."
Rhea melingkarkan lengannya di leher Kaelen, menariknya turun. "Bagus," balasnya, matanya berkilat penuh kemenangan. "Karena aku tidak suka berbagi takhta."
Kaelen menyeringai, lalu melumat bibir wanitanya dengan intensitas yang menjanjikan bahwa pagi itu masih sangat panjang. Di puncak menara gading itu, sang Raja Kelabu telah menobatkan Ratu barunya—sebuah penobatan yang dimeteraikan bukan dengan emas, melainkan dengan hasrat yang membara.