Belenggu Sang Raja Kelabu
Rhea berdiri mematung di tengah kemegahan dapur terbuka itu, jemarinya bergetar halus laksana daun kering yang ditiup angin musim gugur saat menuangkan cairan scotch tua yang berkilau jahat. Ke dalam gelas kristal yang ditakdirkan untuk bibir Kaelen, ia telah meneteskan racun tidur—sebuah dosis letal dari mimpi buruk kimiawi yang mampu meruntuhkan seorang Senator Vargas menjadi onggokan daging tak berdaya dalam hitungan menit.
Ini adalah pertaruhan terakhirnya malam ini: menenggelamkan kesadaran Kaelen ke dalam abyss, mencuri jejak identitasnya—sidik jari, retina, apa pun yang mampu menjebol benteng brankas pribadinya. Lalu, ia akan lenyap dari penthouse ini sebelum fajar merekah, membawa bukti yang cukup untuk meruntuhkan imperium Thorne hingga menjadi debu.
Namun, ketika ia berbalik, gelas itu terasa berat di tangannya. Kaelen telah menjulang di sana, memangkas jarak hingga oksigen terasa menipis. Sepasang manik matanya bukanlah mata manusia biasa; itu adalah badai abu-abu baja, tajam menghunus, dan jernih tanpa kabut sedikit pun.
"Kau gemetar," suaranya meluncur pelan, sehalus beludru namun mematikan, seraya merampas gelas itu dari cengkeraman Rhea yang melemah. "Takut?"
Rhea menelan ludah, tenggorokannya tercekat. "Hanya... dingin."
Kaelen menatap cairan amber di dalam gelas itu, lalu bibirnya menyunggingkan senyum tipis—sebuah kurva mengerikan yang mengirimkan sinyal bahaya ke sepanjang tulang punggung Rhea.
"Salut," bisiknya, nadanya mengandung ironi yang pahit. "Kau memiliki keberanian untuk memainkan trik yang sama dua kali dalam satu putaran bulan."
Ia mengangkat gelas itu, seolah hendak mencicipi kematiannya sendiri... sebelum menuangkan seluruh isinya ke wastafel dalam satu gerakan tenang yang menghina.
"Tragis sekali," lanjutnya, suaranya merendah. "Aku telah memusnahkan setiap tetes alkohol di kediaman ini sejak kau berhasil mengubah Vargas menjadi boneka. Darahku pun telah dimurnikan, sistem filtrasiku menolak segala jenis sedasi. Sebuah paranoia yang menyelamatkan nyawa."
Rhea mundur, punggungnya menghantam dinginnya marmer counter yang tak kenal ampun. Kaelen mendesak maju, kedua lengannya mengunci sisi tubuh Rhea, menciptakan penjara tanpa celah.
"Kau pikir aku buta?" bisiknya, tatapannya mengunci manik mata Rhea. "Kau pikir aku tidak melihat pemancar kecil di laci sanctuary-mu? Boneka silikon yang mencuri wajahmu? Kau sungguh... artistik dalam pengkhianatanmu."
Rhea mencoba mendorong d**a bidang itu, namun sia-sia. Kaelen terlalu kokoh, seperti tembok benteng yang tak tergoyahkan. "Lepaskan aku. Aku akan pergi."
"Tidak untuk malam ini. Dan tidak untuk malam-malam berikutnya."
Tangan Kaelen bergerak, bukan untuk menyakiti, melainkan mencengkeram dagu Rhea, memaksanya menatap langsung ke dalam mata sang predator. Jarak wajah mereka begitu dekat hingga Rhea bisa merasakan napas hangat pria itu.
"Kau datang ke sini untuk menghancurkanku, Rhea. Tapi kau lupa satu hal," Kaelen mencondongkan tubuh, bibirnya menyapu telinga Rhea, mengirimkan getaran aneh yang membekukan darah. "Saat kau masuk ke sarang singa, kau tidak keluar sebagai pemburu. Kau keluar sebagai mangsa... atau sebagai milik."
"Aku bukan milik siapa pun," desis Rhea, mencoba mempertahankan sisa keberaniannya.
"Kau adalah pembohong yang buruk, Rhea."
Kaelen melepaskan cengkeramannya, namun auranya masih mengungkung Rhea. Ia mundur selangkah, merapikan jasnya dengan ketenangan yang menakutkan, seolah baru saja menyelesaikan negosiasi bisnis, bukan konfrontasi hidup dan mati.
"Malam ini, pintu penthouse ini terkunci secara biometrik. Hanya suaraku dan detak jantungku yang bisa membukanya," ujar Kaelen datar. Ia menunjuk ke arah lorong kamar utama. "Kau punya dua pilihan. Menghabiskan malam di sel isolasi bawah tanah, atau menerima nasibmu di sini, di sisiku, sebagai tawanan di sangkar emas ini."
Rhea terbelalak. "Kau gila."
"Aku seorang oportunis," koreksi Kaelen. "Dan aku baru saja mendapatkan aset paling berharga dari musuhku."
Ia berjalan mendekat lagi, kali ini perlahan, menyentuh rambut Rhea dengan gerakan yang hampir bisa disebut lembut, jika bukan karena ancaman yang tersirat di matanya.
"Kau tahu apa artinya ini?" bisiknya. "Kau tidak akan bisa lari lagi. Aku telah mendapatkanmu sekarang. Bukan hanya rahasiamu, tapi juga kebebasanmu."
Rhea menatapnya dengan napas tertahan. Di dalam tempurung kepalanya, suara instruksi Bella Ward akhirnya bungkam, digantikan oleh kesadaran mengerikan bahwa misinya telah gagal total.
Cahaya matahari pagi menyelinap malas melalui celah tirai, melukis garis-garis emas di atas lantai marmer. Rhea terbangun di atas sofa panjang di ruang tamu, selimut tebal menutupi tubuhnya. Ia masih mengenakan gaun malamnya, utuh namun kusut.
Ia segera bangkit, mencari jalan keluar, namun pintu utama tetap terkunci rapat.
"Jangan buang tenagamu," suara baritone itu terdengar dari arah dapur.
Kaelen berdiri di sana, menyesap kopi hitam, menatap Rhea dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara kemenangan dan obsesi yang dingin.
"Mulai hari ini, dunia luar menganggapmu hilang," kata Kaelen santai, meletakkan cangkir kopinya. "Agen Rhea telah lenyap. Yang tersisa hanyalah wanita yang kini berada dalam genggamanku."
Rhea mengepalkan tangannya, menatap pria yang kini memegang kendali penuh atas hidupnya. "Kau tidak akan bisa mengurungku selamanya, Kaelen."
Kaelen tersenyum tipis, berjalan mendekat hingga ia berdiri tepat di hadapan Rhea. Ia meraih tangan Rhea, menggenggamnya erat, sebuah deklarasi kepemilikan tanpa kata.
"Kita lihat saja nanti," bisiknya. "Permainan baru saja dimulai, Sayang. Dan kali ini, akulah yang memegang dadunya."