BAB 5

918 Kata
Bab 5: Seni Manipulasi The Black Swan – Suite Kerajaan, lantai 47 Lampu suite pribadi Kaelen Thorne redup, hanya diterangi garis-garis neon merah darah yang menyelinap dari celah tirai anti-peluru. Udara terasa berat—campuran oud mahal, alkohol tua, dan sesuatu yang lebih gelap, nafsu yang belum terlampiaskan. Senator Vargas sudah setengah mabuk saat Rhea melangkah masuk. Matanya yang keruh langsung menganga melihat gaun merah darah yang membungkus tubuh Rhea seperti dosa cair. Belahan tinggi di sisi kiri memperlihatkan garis paha mulus setiap kali ia melangkah. Tumit Louboutin-nya berdentang pelan di marmer hitam, satu-satunya suara selain napas berat Vargas. “Selamat malam, Senator,” sapa Rhea, suaranya seperti madu yang dicampur racun. Ia tidak langsung mendekat. Ia membiarkan pria tua itu menelan ludah dulu. Di meja marmer, dokumen perjanjian itu tergeletak—kertas putih bersih yang akan menghancurkan karier Vargas begitu ditandatangani. Rhea mengangkat dua gelas sampanye Dom Pérignon yang sudah ia siapkan sebelumnya. Satu gelas murni. Satu lagi… tidak. “Minum dulu,” bisiknya, mendekat perlahan, pinggulnya bergoyang seperti ancaman. “Malam ini kita main permainan berbahaya, Tuan. Dan aturannya… aku yang menentukan.” Vargas menelan gelas pertamanya dalam satu teguk. Obat penenang ringan mulai bekerja—mata jadi berkaca, napas makin berat, tapi hasratnya justru melonjak. Rhea duduk di pangkuan pria itu, gaunnya naik beberapa senti lagi. Ia merasakan tangan gemetar Vargas langsung merayap ke pinggangnya. “Sebelum kita lanjut…” Rhea mengambil pena emas dari meja, meletakkannya di telapak tangan Vargas yang basah keringat. “Tandatangani ini dulu. Untuk King.” Vargas tertawa serak. “Kau pikir aku bodoh?” Rhea menunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga pria itu. “Tidak. Aku pikir kau pintar. Dan orang pintar tahu—jika kau tidak menandatangani, aku akan pergi. Dan kau tidak akan pernah merasakan apa yang sudah kau bayar mahal malam ini.” Logika sederhana. Ketakutan pada Kaelen lebih besar daripada nafsunya. Vargas mencoret nama dengan tangan gemetar. Dokumen aman di tangan Rhea. Rhea berdiri, menarik napas dalam, lalu menekan tombol kecil di anting-antingnya. Pintu kamar mandi terbuka pelan. Dua “pelayan” masuk tanpa suara, membawa peti besar. Di dalamnya: boneka silikon paling realistis yang pernah diciptakan FBI—wajah mirip Rhea 99,8%, rambut hitam panjang asli, tubuh hangat karena pemanas internal, dan motor gerak yang bisa diprogram dari jarak jauh. Tiga menit kemudian, boneka itu sudah telentang di ranjang king-size, gaun merah duplikat terbuka hingga pinggang, “mata” setengah terpejam penuh gairah palsu. Rhea mundur ke bayangan, remote kecil di tangan. Vargas, kini benar-benar terbius, merangkak ke ranjang. “Ya Tuhan… Rhea…” Boneka itu mengeluarkan desahan lembut yang sudah direkam dari suara Rhea sendiri. Pinggulnya bergoyang pelan, ritmis, mengundang. “Ahh… lebih cepat, sayang…” gumam Vargas, tangannya meremas bantal seperti p******a. Rhea menaikkan intensitas lewat remote. Gerakan boneka jadi lebih liar. Vargas menggeram, tubuhnya menegang, lalu ambruk dengan raungan puas yang memuakkan—cairan kental mengotori seprai sutra hitam. Rhea tidak berkedip. Ia hanya menunggu sampai napas Vargas jadi pelan, lalu melangkah keluar dari bayangan. Suntikan kedua—dosis tinggi, langsung ke leher. Jleb. “Argh—” jerit Vargas terputus. Tubuhnya lunglai. Rhea membungkuk di atasnya, bibirnya hampir menyentuh telinga pria itu. “Terima kasih atas tanda tangannya, Senator. Seharusnya kau juga berterimakasih karena aku membiarkanmu sampai pada puncakmu.” Ia menarik dokumen asli dari jas Vargas, melipatnya rapi, lalu menyelipkannya ke dalam bra hitam renda yang jadi satu-satunya pakaian dalamnya malam ini. Kamera mikro di anting dan kalung sudah merekam segalanya—Vargas menandatangani dokumen ilegal, lalu “berhubungan” dengan “Rhea” dalam kondisi nyaris tak sadar. Bukti yang cukup untuk mengirimnya ke penjara seumur hidup… atau membuatnya jadi boneka Kaelen selamanya. Rhea melangkah keluar dari suite dengan tenang. Pengawal di depan pintu hanya mengangguk hormat—mereka sudah terbiasa melihat wanita keluar dari suite King dengan wajah puas. *** Keesokan malam, The Black Swan – area VIP. Kaelen berdiri di balkon pribadi, mengawasi lantai dansa seperti raja yang mengawasi kerajaannya. Rhea naik lewat tangga spiral, gaun hitam ketat baru, rambut masih basah dari mandi—bau sabun mahal dan dosa segar. Kaelen tidak berbalik saat ia mendekat. Tapi saat Rhea berdiri di sampingnya, tangan pria itu langsung melingkari pinggangnya—keras, posesif, di depan semua orang. “Senator Vargas tersenyum seperti i***t seharian,” gumam Kaelen di telinga Rhea, suaranya serak. “Katanya kau… luar biasa.” Rhea memiringkan kepala, menatap Kaelen dari bawah bulu mata panjang. “Aku selalu memberikan lebih dari yang diminta, King.” Tangan Kaelen merayap lebih rendah, jari-jarinya menyelinap ke bawah gaun di bagian punggung—langsung menyentuh kulit telanjang. Ia menarik Rhea hingga punggungnya menempel di dadanya, bibirnya menggigit cuping telinga Rhea pelan. “Kau bukan hanya efektif,” bisiknya, napas panas menggelitik. “Kau adalah seni yang mematikan. Dan sekarang kau milikku.” Rhea menoleh sekilas, bibir mereka hampir bersentuhan. “Belum sepenuhnya,” bisiknya balik, senyumnya seperti pisau yang baru diasah. “Tapi aku sedang dalam proses menjual jiwa itu… dengan harga yang sangat mahal.” Kaelen tertawa pelan—suara gelap yang membuat lutut siapa saja lemah. “Maka kita akan nego harga itu nanti malam. Di ranjangku.” Rhea tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menekan pinggulnya ke belakang sekali—gerakan kecil yang membuat Kaelen menggeram di tenggorokan. Di dalam dadanya, Bella Ward berteriak ketakutan. Di permukaannya, Rhea hanya tersenyum—dan senyuman itu sudah mulai terasa seperti milik seorang ratu yang baru dinobatkan. Permainan baru saja naik level. Dan kali ini, taruhannya adalah jiwanya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN