Rhea menatap Kaelen, matanya berbinar bangga. “Itu anak kita.” Kaelen memegang kepalanya. “Kita menciptakan monster yang bisa membayar uang sekolahnya sendiri dengan menembak orang.” Aurora bangkit dari kursi, memeluk leher Kaelen dari belakang. “Da-da jangan sedih. Nanti aku pulang tiap libur. Dan aku janji cuma tembak orang yang boleh ditembak.” Kaelen, suaranya serak karena emosi campur aduk. “Janji?” “Janji. Kecuali mereka mulai duluan.” Lalu dia mencium pipi Kaelen dan berlari ke kamarnya, menyanyikan lagu anak-anak dengan lirik yang sudah ia ubah menjadi: “Aku suka tembak-tembak, tembak cepat, tembak tepat.” Kaelen dan Rhea saling tatap di meja makan. “Kita salah besar,” kata Kaelen. *** Institut Le Rosey, Rolle & Gstaad, Swiss Le Rosey bukanlah sekadar sekolah. Le Rosey ad

