Cukup lama Bina dan Niko berpelukan sambil menangis penuh haru. Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Mimpi yang sangat melegakan. Acara tetap dilanjutkan sampai selesai, tapi Bina dan Niko memutuskan untuk masuk. Mereka butuh ruang berdua, bukan sekadar melepas rindu, tapi juga perlu bicara berdua. Teman-teman tongkrongan Niko? Sudah diatur untuk beristirahat di kosan nomor satu. Niko memang sudah mendapat izin dari Hanna, bahkan ia diberi tahu sandinya agar pintunya bisa dibuka. “Maaf karena baru datang sekarang,” ucap Niko. “Enggak perlu minta maaf karena bagiku yang penting Mas Niko kembali. Sumpah, selama ini aku khawatir banget. Sebenarnya apa yang terjadi?” “Mas nggak mungkin menjelaskan semuanya lewat telepon karena berpotensi salah paham. Mas juga sebenarnya nggak sabar p

