Pagi itu, aroma kopi hangat dan roti panggang memenuhi ruang makan. Fadlan melangkah masuk, mendapati Zahra sudah duduk lebih dulu. Geraknya rapi, teratur, tapi hening. Yang berbeda pagi ini adalah penampilannya—ia masih mengenakan kaos longgar dan celana training, bukan setelan kerja seperti biasanya. Fadlan meneguk kopi, lalu meliriknya. “Ra, kamu nggak kerja?” tanyanya pelan. Zahra mengangguk, tak menatap langsung. “Aku dikasih libur sama Bu Widya.” Fadlan mengernyit halus. “Lagi nggak enak badan?” “Enggak.” Zahra menghela napas pelan. “Aku mau ke rumah Ibu. Nginep dua malam. Senin langsung ke kantor.” Jantung Fadlan berdegup lebih cepat. Ada ketakutan kecil—takut Zahra pergi dan tak kembali. Tapi ia buru-buru menahan perasaan itu. Zahra memang sering ke rumah orang tuanya saat we

