Pertemuan tak sengaja mereka dengan ibu dan juga adik Cakra barusan, tak urung menghancurkan mood Shera yang tadinya senang karena boleh pulang dari rumah sakit. Terbaring nyaman di atas tempat tidur kamarnya, pikiran Shera justru masih berkelana kemana-mana. Mata sayunya kembali menoleh ke jam duduk di samping lampu tidur. Entah jarum jamnya yang berdetak terlalu lambat, atau dia yang sudah tidak sabaran menunggu malam tiba. Shera mengangkat kedua tangannya. Menatap tanpa kedip sambil memutar ulang semua memori kebersamaan bersama mamanya dan Darin. Sempat pasrah pada takdir, hingga akhirnya dia memilih untuk mengotori tangannya dengan darah. Tidak peduli bagaimana dunia akan menghakiminya setelah ini. Mati-matian dia mencoba untuk sabar dan tetap jadi orang baik, tapi mereka justru ma

