Bagaimana Dewa tidak meradang, sedang Daren nyungsep dengan tidak etisnya. Menindih di atas Nay, mukanya tenggelam tepat di dua bongkahan kenyal yang membuatnya seperti merasakan aroma syurga. Seketika Daren lupa dia sedang lari dari kejaran angsa galaknya Kenes. Otaknya oleng, sibuk mempertanyakan dimana dia bisa membeli bantal sekenyal dan senyaman ini. Baru setelah mendengar rintihan itu Daren pun mendongak. Tersentak melongo melihat Nay meringis tertindih olehnya. Ada lagi, bentakan kasar itu membuatnya menoleh. Oke, sepertinya hari ini Daren memang sedang ketiban apes. Meski belum pernah bertemu, tapi Daren tahu pemuda yang sedang menggendong bayi dan melotot marah itu adalah adiknya Nay. “Minggir, g****k!” teriak Dewa tidak sabaran, lalu mendekat dan menarik kerah belakang baju Dar

