Dokter mengijinkan Shera pulang, dengan catatan tetap harus istirahat total di rumah. Keluar dari rumah sakit ibarat melangkah dari pintu kematian. Siapa sangka seminggu lalu dia sudah berdiri di ambang maut. Bagi Liam, Jeje dan Pras yang saat itu melihat sendiri bagaimana Shera tertembak bersimbah darah hingga beberapa kali jantungnya berhenti berdetak, rasanya seperti mukjizat bisa membawa Shera pulang dengan keadaannya yang sudah membaik dan kembali tersenyum. “Kalau sakit bilang! Kamu sih ngeyel, disuruh duduk kursi roda nggak mau!” ucap Liam yang menggandeng Shera keluar dari lift yang berhenti di lobi rumah sakit. “Nggak sakit, kalau belum membaik dokter tidak mungkin mengizinkanku pulang.” “Aku tidak berhenti bersyukur bisa membawamu keluar dari rumah sakit dengan keadaan yang be

