Bab 1 - Kedatangan Ibu dan Adik Tiri
Pintu depan terbuka pelan ketika dua sosok perempuan berdiri di ambangnya, masing-masing membawa kardus yang sudah agak robek di pinggirnya. Cahaya sore menyusup dari belakang, membuat siluet mereka tampak samar sejenak sebelum langkah pertama masuk.
“Masuklah,” kata ayah tiri dengan suara yang sedikit terlalu keras, seolah ingin mengisi ruang yang tiba-tiba terasa sempit. Ibu tiri baru itu tersenyum tipis, meletakkan kardus di lantai dengan hati-hati. “Terima kasih sudah menyiapkan tempat ini.”
Kamu berdiri di dekat tangga, tangan masih di saku celana. Pandanganmu langsung tertuju pada gadis yang mengikuti di belakang ibunya—adik tirimu yang baru. Dia membawa dua tas jinjing yang kelihatan berat, lengan telanjangnya sedikit tegang menahan beban. Rambutnya terikat acak, beberapa helai menempel di leher yang lembab karena keringat perjalanan.
Mata kalian bertemu tepat saat dia mengangkat wajah. Bukan tatapan yang ramah atau canggung seperti pertemuan biasa. Ada sesuatu yang tertahan di sana—seperti orang yang sudah mengenal wajah itu sebelumnya, meski baru pertama kali melihatnya secara langsung. Dia tidak tersenyum, hanya mengangguk kecil, tapi napasnya terlihat sedikit lebih cepat ketika dia meletakkan tas di lantai.
“Dia… adikmu,” kata ibu tiri baru itu, seolah memperkenalkan sesuatu yang sudah jelas. Suaranya ringan, tapi ada jeda kecil di antara kalimatnya.
Kamu mengangguk, langkah mendekat. “Butuh bantuan?”
Gadis itu menggeleng pelan. Jarinya masih menempel di pegangan tas, seolah enggan melepaskan. “Sudah cukup. Cuma… banyak barang.”
Ruangan terasa lebih panas tiba-tiba. Bau kardus, kayu baru, dan sedikit parfum murah yang masih menempel di bajunya bercampur dengan udara diam di rumah itu. Dia berdiri agak dekat—terlalu dekat untuk dua orang yang baru bertemu—dan ketika dia menunduk untuk menggeser kardus, bahunya nyaris menyentuh lengannya.
Tak ada kata yang diucapkan lebih lama. Hanya suara kardus yang didorong, langkah kaki di lantai kayu, dan sesekali hembusan napas yang tak sengaja sinkron. Ketika ibu tiri baru dan ayah tiri mulai membicarakan penempatan kamar, kalian berdua diam di tempat masing-masing, saling mengamati tanpa perlu menatap langsung.
Dia menggigit bibir bawahnya sebentar, lalu mengangkat lagi satu kardus. Suaranya rendah, hampir tak terdengar.
“Rumah ini… lebih besar dari yang kubayangkan.”
Kamu tak menjawab langsung. Hanya mengangguk, tapi jarak di antara kalian sudah berubah—bukan lagi sekadar dua orang asing yang baru bertemu, melainkan sesuatu yang mulai menegang di udara, menunggu siapa yang akan menyentuhnya lebih dulu.
Kotak-kotak karton menumpuk di ruang tamu yang masih beraroma cat baru. Ibu tirimu tersenyum lebar sambil mengusap keringat di dahi, “Akhirnya selesai juga. Terima kasih sudah membantu, Nak.” Ayah tirimu hanya mengangguk singkat, tangannya masih sibuk mengatur lemari yang baru dipindah.
Kamu berdiri di ambang pintu, kaus oblong hitam sudah agak basah di bagian d**a karena keringat. Pandanganmu langsung tertuju padanya—adik tirimu yang baru saja meletakkan kotak terakhir di lantai. Rambutnya yang panjang sedikit acak-acakan, kaus tipisnya menempel di punggung karena panas. Dia menoleh, mata cokelatnya bertemu denganmu hanya sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya.
“Semua sudah masuk,” katanya pelan, suaranya tenang tapi ada sedikit getar di ujungnya. Dia berdiri, mengelap telapak tangan di celana jeans pendek. “Kamu… sudah lama tinggal di sini?”
“Empat tahun,” jawabmu. Suaramu terdengar biasa saja, tapi dadamu terasa sesak ketika dia melangkah mendekat untuk mengambil botol air di atas meja sampingmu. Lengan telanjangnya menyenggol lenganmu—hangat, lembab sedikit, dan dia tidak langsung menarik diri.
Ada jeda kecil yang terlalu panjang. Kamu bisa mencium aroma sabun mandi ringan yang masih menempel di kulitnya, bercampur dengan bau kardus dan debu. Matanya turun sebentar ke bibirmu sebelum kembali ke matamu.
“Rumah ini… lebih besar dari yang kubayangkan,” ucapnya lagi, kali ini hampir berbisik. Jari-jarinya masih memegang botol, tapi tak kunjung minum. “Kita akan sering bertemu, ya?”
Kamu mengangguk. “Mungkin.”
Di belakang kalian, ibu dan ayah kalian sudah bergerak ke dapur, suara mereka samar. Ruang tamu terasa lebih sempit tiba-tiba. Dia menggigit bibir bawahnya sebentar, lalu tersenyum kecil—bukan senyum sopan, melainkan yang meninggalkan jejak panas di udara di antara kalian.
“Kalau butuh bantuan bongkar barang, bilang aja,” katamu, suaramu lebih rendah dari biasanya.
Dia mengangguk pelan. “Nanti malam… mungkin.”
Kemudian dia berbalik, membawa botol itu, tapi langkahnya sedikit lebih lambat dari yang seharusnya. Kamu tetap di tempat, melihat punggungnya menjauh, dan sesuatu yang tadinya biasa saja—pindahan rumah—terasa sudah berubah bentuk di d**a kalian berdua.