Pagi itu, di WIRATAMA GROUP, Ghea datang dengan semangat baru. Misi Ibu Tiri Impian mungkin tidak bisa ia suarakan, tetapi bisa ia jalankan.
Ia sadar bahwa Chief Aryan adalah pria yang sangat dingin dan gila kerja.
Ghea mencoba mendekati Aryan dengan perhatian yang profesional namun personal.
Ia mulai mengamati kebiasaan kerja Aryan dari kejauhan melalui Asistennya, Dina, atau sesama OG di Lantai 35.
Observasi, Ghea mencatat bahwa Aryan selalu minum kopi espresso double shot tanpa gula setiap pukul 08.00 pagi.
Pukul 07.45, Ghea secara rutin memastikan espresso Aryan sudah siap dan ditempatkan dengan sempurna di meja Dina, asisten yang bertugas membawanya masuk. Ghea bahkan memastikan suhu cangkirnya selalu ideal, hal yang jarang diperhatikan OG lain.
Aryan tidak melihat Ghea, tetapi ia merasakan perbedaan. Kopinya selalu sempurna, tepat waktu, dan panasnya pas.
"Dina, kopiku akhir-akhir ini sempurna. Siapa yang membuatnya?" tanya Aryan suatu pagi.
Dina bingung. "Saya tidak tahu, Pak. Itu tugas Office Girl baru di Lantai 30. Ghea, namanya."
Aryan terdiam. Gadis itu. Dia tidak menggodanya, dia tidak melanggar aturan, tetapi dia melakukan tugasnya dengan personal touch yang tidak ia duga.
Sementara itu, Claudia melancarkan strateginya melalui Herman, Marketing Manager yang punya hutang budi padanya.
Herman, yang ingin menjilat mantan istri Aryan, mulai mencari-cari kesalahan Ghea.
"Ghea, antar dokumen ini ke Departemen Keuangan di Lantai 15, sekarang!" perintah Herman, suaranya tajam.
"Baik, Pak Herman," Ghea mengambil dokumen itu.
Namun, Herman sengaja mencampurkan dokumen yang seharusnya hanya dilihat oleh CEO, yaitu Laporan Keuangan Q3 yang bersifat sangat rahasia.
Ghea, karena masih baru, tidak memeriksa detail setiap lembar dokumen. Ia hanya melihat cover yang bertuliskan "Keuangan - Lantai 15."
Ghea mengantar dokumen itu. Setengah jam kemudian, kekacauan terjadi.
Herman, dengan wajah pura-pura panik, mendatangi kantor Kepala HRD, Ibu Sari.
"Ibu Sari! Ini gawat! Laporan Keuangan Q3 rahasia telah beredar! Saya curiga Office Girl baru, Ghea, yang mengantarkannya ke lantai yang salah!" tuduh Herman, memastikan Ibu Sari mendengar tentang kegagalan Ghea.
Ibu Sari segera memanggil Ghea.
"Nona Ghea, Anda tahu Laporan Keuangan Q3? Mengapa Anda membawanya ke Lantai 15?" tanya Ibu Sari dengan nada dingin. "Itu dokumen Chief Aryan, hanya boleh diakses di Lantai 35!"
Ghea pucat pasi. "Saya... saya hanya mengantar dokumen yang diberikan Pak Herman, Bu. Saya tidak memeriksa setiap lembarnya."
"Kelalaian adalah kelalaian, Nona Ghea. Ini dokumen rahasia perusahaan! Saya harus melaporkan ini pada Chief Aryan. Anda mungkin harus siap untuk dipecat," kata Ibu Sari tegas.
Rencana Claudia berhasil. Ghea terancam dipecat karena kelalaian yang fatal.
Ibu Sari, yang takut mengambil keputusan besar tanpa izin, naik ke Lantai 35. Ia menjelaskan insiden dokumen rahasia itu kepada Aryan.
Aryan mendengarkan dengan tenang, sambil menyesap espresso sempurnanya buatan Ghea.
"Dokumen Q3?" tanya Aryan. "Apakah ada kerusakan fatal yang terjadi?"
"Belum, Pak. Kami berhasil mengamankannya. Tapi ini kelalaian serius, dari Office Girl baru, Nona Ghea."
Aryan menatap cangkir kopinya. Ia teringat tatapan tulus Ghea semalam, pengakuan tulusnya, dan candaan "Ibu Tiri" yang membuatnya geli. Ia juga teringat pesan Ghea tentang Claudia.
"Siapa yang memberikan dokumen itu kepada Nona Ghea?" tanya Aryan.
"Pak Herman, Marketing Manager, Pak," jawab Ibu Sari.
Aryan tahu Herman. Pria yang dekat dengan mantan istrinya. Sebuah serangan yang direncanakan, pikir Aryan.
"Nona Ghea adalah Office Girl baru, Bu Sari. Kelalaian bisa dimaklumi. Dan Pak Herman seharusnya memastikan dokumen rahasia tidak diserahkan pada Office Girl," ujar Aryan.
"Berikan peringatan keras pada Nona Ghea. Dan jangan sentuh gajinya."
"Baik, Pak." Ibu Sari terkejut, Chief yang dikenal perfeksionis ini biasanya akan langsung memecat.
Aryan melanjutkan, "Dan satu hal lagi, Bu Sari. Mulai besok, Nona Ghea akan ditugaskan di Lantai 35. Dia akan menjadi Office Girl pribadi saya. Dia melayani saya langsung."
Ibu Sari semakin terkejut. "Tapi, Pak, Ghea masih baru..."
"Saya butuh seseorang yang cermat dengan kopi dan bersemangat. Pindahkan dia besok pagi. Dan masalah dokumen rahasia, anggap selesai," putus Aryan.
_Kosan, Malam Hari_
Saat kembali ke kosan, Ghea hanya bisa senyum-senyum sendiri. Surat peringatan itu tidak terasa menakutkan, karena di balik surat itu ada perintah promosi.
Claudia, yang sedang membaca buku, menatap Ghea dengan tatapan menuduh. Ia sudah mendengar kabar buruk dari Herman: Ghea tidak dipecat, bahkan Herman sendiri ditegur.
"Kenapa kau senyum-senyum?" tanya Claudia dingin. "Kau tahu hampir dipecat karena kelalaian fatal? Ayahku itu licik, Ghea. Dia pasti mengancammu agar tidak bicara."
Ghea menggeleng, menahan tawa. "Kau tahu, Chief Aryan itu bukan hanya pria baik, tapi juga pria yang sangat cerdas, Cla."
"Maksudmu?"
"Aku tidak dipecat," kata Ghea santai. "Justru aku dipromosikan."
Ghea menunjukkan surat perintah pemindahan tugas itu.
Claudia membaca surat itu, matanya membelalak tak percaya.
... Dipindahtugaskan ke Lantai 35, Office Girl Pribadi CEO.
"Tidak! Ini jebakan!" seru Claudia, melempar surat itu. "Dia pasti melakukan ini agar kau diam! Dia membelimu, Ghea!"
"Memangnya kenapa? Gaji OG pribadi CEO pasti gila-gilaan," Ghea terkekeh. "Dan lihat, dia melindungiku, Cla. Dia menyalahkan Pak Herman, bukan aku. Dia tahu aku baru. Dia tidak sekejam yang kau kira."
Ghea duduk di samping Claudia, menyeringai. "Kau harus terima kenyataan. Ayahmu itu pahlawan, Cla. Dan sekarang, aku akan lebih sering melihatnya. Misi Ibu Tiri Impian selangkah lebih dekat menuju realita."
Claudia bangkit, mengepalkan tangan. "Aku tidak akan membiarkanmu merusak dirimu sendiri. Aku akan melakukan segalanya agar kau menjauhi pria itu, Ghea. Segalanya!"
"Aku tidak takut," balas Ghea. Ia senang. Perang dingin dengan Claudia dan tantangan baru dengan Chief Aryan membuat hidupnya yang semula hampa kini penuh warna.