Bab 8: Ibu tiri?
...Ghea tidak bergerak. Ia mendongak, menatap Aryan. Ketakutan dan rasa benci telah hilang, digantikan oleh kekaguman murni.
"Bapak... Bapak pria yang sangat baik," kata Ghea tulus.
Aryan menatapnya dengan tatapan tajam yang membuat Ghea hampir menciut. Ia tidak suka dipuji, apalagi oleh karyawannya, di ruangan pribadinya.
"Terima kasih atas pujiannya, tapi saya tidak butuh itu," kata Aryan, suaranya kembali ke nada dingin seorang CEO yang efisien. "Silakan keluar dari ruangan ini, Nona Ghea. Ini di luar jam kerja Anda."
Ghea, meskipun merasa malu karena diusir, justru menemukan sikap dingin Aryan menarik. Ia adalah pria yang tidak mencari pamrih atau pujian setelah melakukan kebaikan besar.
"Satu hal lagi, Pak," Ghea memberanikan diri.
Aryan mendesah pelan, menunjukkan ketidaksabarannya.
"Saya tadi lari dari aula kampus bersama... bersama anak Bapak. Claudia. Saya tahu semuanya, Pak. Kami sahabat."
Wajah Aryan seketika berubah. Dingin, tetapi kini ada sedikit rasa sakit yang tersembunyi.
"Saya tidak perlu tahu urusan pribadi Anda, Nona Ghea," jawab Aryan, meskipun ada getaran samar dalam suaranya.
"Tapi Bapak perlu tahu ini, dia membenci Bapak," kata Ghea jujur. "Dia pikir Bapak mengabaikannya sejak perceraian, dan Bapak tidak berjuang untuknya. Dia tidak tahu Ibu melarangnya. Dia pikir Bapak memang tidak mau menemuinya. Itu sebabnya dia lari dari rumah dan hidup susah."
Aryan memejamkan mata sesaat. "Terima kasih atas informasinya. Sekarang, silakan keluar."
Ghea tahu ia telah menyentuh titik sensitif. Ia sudah menyelesaikan misinya, membersihkan nama Aryan dan menyampaikan pesan Claudia.
Ghea mengangguk, lalu berjalan ke pintu.
_Kosan, Pukul 22.00 WIB_
Ghea kembali ke kosan, menemukan Claudia duduk di meja belajar, tampak seperti patung es.
"Kau ke mana? Kau menghilang!" tuntut Claudia, suaranya tajam.
"Aku ke kantor," jawab Ghea tenang. "Menemui Ayahmu."
Claudia melompat berdiri. "Kau gila! Aku bilang jangan! Apa yang dia lakukan padamu?! Dia memecatmu, kan?! Dia mengancammu?!"
Ghea duduk di tepi kasur, melepas blus kerjanya. "Tidak. Dia tidak memecatku. Dia menunjukkan rekaman CCTV kamar hotel."
Ghea menceritakan semuanya, tentang rekaman CCTV yang menunjukkan Aryan benar-benar tidur di sofa, dan bagaimana Ghea yang agresif saat di bawah pengaruh obat. Ia menceritakan kejujuran Aryan dan sikapnya yang dingin setelah Ghea berterima kasih.
"Dia bukan predator, Cla. Dia orang baik. Dia menyelamatkanku," simpul Ghea. "Dan soal Bapak, dia bilang dia tidak diizinkan menemuimu oleh Ibumu."
Wajah Claudia memucat, tetapi ia menolak untuk percaya. "Kau termakan omongannya, Ghea. Dia CEO, dia bisa memalsukan rekaman, dia bisa memanipulasimu! Dia tahu kau polos. Dan soal Ibu... Ibu tidak akan melarang jika dia benar-benar berjuang!"
"Kau bahkan tidak mau mencoba! Kau sudah punya Ayah yang baik, Cla. Aku ini yatim piatu, dan aku rela punya Ayah sekeren dia!" seru Ghea, frustrasi.
Claudia terdiam, diserang oleh rasa bersalah karena membohongi Ghea dan oleh cemburu yang tak terhindarkan.
"Lalu, apa rencanamu sekarang?" tanya Claudia, nada suaranya berubah menjadi mengancam.
Ghea menyeringai nakal. "Aku akan terus bekerja. Aku akan tunjukkan padamu bahwa Ayahmu itu pahlawan, bukan iblis. Dan aku akan terus menggodanya."
"Menggodanya?! Kau gila?!"
"Kenapa tidak? Dia tampan, kaya, mapan, dan... dia melajang. Aku juga siap jika harus jadi ibu tirimu, Cla." canda Ghea, meskipun ada keseriusan samar di matanya.
Claudia tidak tertawa. Ia menatap Ghea dengan ekspresi yang keras.
"Jangan pernah berani melakukan itu, Ghea. Jangan pernah dekat dengannya! Kau tidak tahu seberapa berbahayanya pria seperti dia. Kau tidak tahu siapa dia yang sebenarnya."
Ghea hanya mengangkat bahu. Ia telah mendapatkan kebenarannya, dan kini ia punya target baru yang lebih menarik daripada tugas DKV, membuat Chief Aryan tersenyum.