Pengakuan

961 Kata
.... Ghea dan Claudia berlari keluar dari aula kampus tanpa peduli. Mereka tidak berhenti sampai tiba di taman belakang yang sepi, di balik pohon beringin tua. Ghea mencengkeram lututnya, terengah-engah. "Cla! Kau gila?! Itu CEO-ku! Om-Om itu! Aryan Wiratama! Kenapa kau menarikku?!" Claudia tidak menjawab. Wajahnya yang pucat kini dipenuhi air mata, bukan air mata kesedihan, melainkan amarah yang dingin. Ia bersandar di batang pohon, tubuhnya gemetar. "Kenapa? Kenapa kau harus ada di sana, Ghea?" bisik Claudia, suaranya parau. "Aku yang harusnya bertanya! Kenapa kau setegang itu? Kau sudah tahu CEO WIRATAMA GROUP adalah pria itu, kan? Itu sebabnya kau tegang saat aku dapat interview!" desak Ghea, rasa dikhianati mencuat. "Dan apa maksudmu, 'Ibu benar, dia tidak pantas jadi Ayahku'?" Claudia memejamkan mata, mengusap air mata dengan kasar. Rahasia yang ia jaga selama bertahun-tahun, yang membuatnya hidup dalam kepalsuan, kini harus diungkap. "Dia bukan Om-Om b******k-mu saja," kata Claudia, suaranya bergetar antara kebencian dan keputusasaan. "Dia... dia Ayahku, Ghea." Aula kampus yang ramai kini terasa hening di telinga Ghea. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya. Ayahku. Ghea menggeleng, mencoba menertawakan ucapan itu, tetapi tatapan serius Claudia menghentikannya. "Tidak mungkin! Kau... kau bilang kau yatim piatu! Kita sama, Cla! Kau tidak mungkin anak dari CEO raksasa!" "Itu kebohongan yang kubuat agar kita bisa berteman!" bentak Claudia. "Ya, aku anak dari Aryan Wiratama, CEO WIRATAMA GROUP! Dan ya, dia adalah pria yang ada di kamar 2901 Regenza Hotel malam itu!" Ghea terduduk di rumput, dunianya terasa runtuh. "Jadi... jadi selama ini kau berbohong? Dan pria yang aku benci... pria yang aku tuduh... dia Ayahmu?" "Dan aku benci dia!" seru Claudia, suaranya tajam. Ia melanjutkan, menceritakan versi kebenaran yang ia yakini. "Sejak perpisahannya dengan Ibu, dia tidak pernah berjuang untukku! Ibu melarang dia menemuiku, tapi dia juga tidak pernah mencoba melawannya! Dia hanya mengirim uang dan mengabaikanku! Aku pindah ke kosan, aku membiayai diriku sendiri, agar dia tahu aku tidak butuh uangnya!" Ghea akhirnya mengerti mengapa Claudia begitu cepat menuduh Aryan. Kebencian Claudia pada Ayahnya sendiri, yang ia anggap dingin dan tidak peduli, telah membutakannya. "Tunggu, Cla," kata Ghea, mulai menyambungkan semua kepingan. "Kau bilang Ibu melarangnya menemuimu. Lalu apa kau pernah mencoba menghubunginya?" "Tidak! Kenapa aku harus? Dia yang seharusnya mencari!" Ghea menarik napas. "Mungkin kau salah, Cla. Kau tidak mau mencari kebenaran tentang Ayahmu, dan kau juga tidak mau mencari kebenaran tentang dia dan aku." "Dia licik, Ghea! Dia memasukkanmu ke kantornya untuk membungkammu!" sela Claudia. "Tidak! Dia bahkan tidak tahu aku ada di sana sampai hari ini! Aku diterima oleh HRD secara resmi! Dan soal malam itu, aku tidak bohong. Dia tidur di sofa. Aku yang menciumnya. Dia menghentikannya!" Ghea berdiri, rasa bersalah karena menuduh seorang pria baik mulai membebani hatinya. "Aku tidak percaya kau membela pria itu, bahkan kita tidak tau apa saja yang sudah dia lakukan padamu dimalam itu" bisik Claudia, matanya penuh kekecewaan. "Kalau gitu, aku akan mencari kebenarannya, Cla. Aku akan hadapi dia di kantor!" putus Ghea. Claudia menggeleng. "Jangan. Kau akan dipecat. Kau akan dihabisi." "Aku tidak peduli," kata Ghea. "Aku butuh kepastian. Aku tidak mau terus bekerja di bawah Chief yang aku anggap predator. Aku akan tahu yang mana. Dan kau, kau harus berhenti membenci pria yang mungkin sebenarnya tidak bersalah. Aku akan memastikannya untukmu." *** _Ruang Rapat CEO_ Ghea memutuskan untuk tidak menunggu. Malam itu juga, setelah jam pulang kantor, Ghea menyelinap naik ke Lantai 35. Ia tahu Aryan sering bekerja hingga larut malam. Jantung Ghea berdebar kencang saat ia tiba di depan ruang kerja mewah CEO. Ia mengetuk pintu perlahan. "Masuk," suara berat dan dingin itu terdengar. Ghea mendorong pintu dan melangkah masuk. Aryan sedang duduk di kursi kebesarannya, tatapannya dingin namun tenang. Ia memegang pena, seolah tidak terganggu oleh kedatangan Ghea. "Nona Ghea," kata Aryan, tanpa ekspresi. "Saya pikir Anda sudah tahu bahwa karyawan Office Girl tidak diizinkan masuk ke ruangan ini tanpa perintah." Ghea menelan ludah. "Bapak Aryan. Saya harus bicara. Tentang malam di Regenza Hotel." Aryan meletakkan penanya. Ia menatap Ghea. Tatapannya bukan lagi tatapan dingin seorang Chief, melainkan tatapan prihatin seorang pria dewasa. "Duduklah, Nona Ghea." Ghea duduk di sofa kulit di hadapannya. "Saya tahu Anda datang dengan tuduhan. Itu wajar. Saya juga tahu Anda lari dari aula kampus tadi siang. Itu juga wajar," kata Aryan tenang. "Saya sudah menduga hari ini akan tiba." Aryan menekan sebuah tombol interkom. "Roy, siapkan monitor di ruang rapat." Ia bangkit, mempersilakan Ghea mengikutinya ke ruang rapat kecil di sebelahnya. "Saya tahu, kata-kata saya tidak berarti apa-apa bagi Anda. Jadi, saya akan tunjukkan buktinya. Saya tidak tahu Anda melamar pekerjaan di sini. Itu kebetulan murni. Tapi saya senang. Itu memberi saya kesempatan untuk menjelaskan tanpa ada kesalahpahaman lagi." Aryan menyalakan monitor. Di layar, muncul rekaman CCTV hitam putih. "Ini rekaman CCTV kamar 2901. Saya selalu memasang kamera pengawas di ruangan hotel yang saya sewa untuk alasan keamanan. Saya tidak akan menunjukkan semuanya, hanya saat-saat penting." Aryan mempercepat rekaman: Ghea ditarik ke dalam kamar. Ghea yang gelisah, merengek, mencoba menciumnya dengan putus asa. Aryan yang menahan Ghea, membaringkannya, lalu mengambil obat tidur dan memberikannya. Aryan mengambil bantal dan selimut, lalu tidur di sofa kulit, membelakangi ranjang. Ghea menatap rekaman itu, air mata mengalir di pipinya. Rasa bersalah menghantamnya. Semua tuduhan buruknya, semua kebenciannya, tidak beralasan. Aryan benar-benar menyelamatkannya. Aryan menghentikan rekaman. "Saya tidak mengambil kesempatan, Nona Ghea. Saya bukan pria seperti itu." Ghea bangkit, membungkuk dalam-dalam. "Maafkan saya, Bapak. Saya... saya telah salah sangka. Terima kasih. Terima kasih sudah menyelamatkan saya." Aryan mengangguk. "Sekarang, Anda bisa kembali bekerja dengan tenang, Nona Ghea. Dan lupakan masalah ini." Ghea tidak bergerak. Ia mendongak, menatap Aryan. Ketakutan dan rasa benci telah hilang, digantikan oleh kekaguman murni. "Bapak... Bapak pria yang sangat baik," kata Ghea tulus. "Terimakasih atas pujiannya, tapi saya tidak butuh itu, silahkan keluar dari ruangan ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN