Pria yang sama

1274 Kata
... Setelah drama di kantin, Claudia tidak memberikan Ghea kesempatan untuk berdebat lagi. Mereka langsung naik taksi, kembali ke kawasan SCBD, menuju Hotel Regenza. "Aku tidak yakin kita akan menemukannya, Cla," kata Ghea putus asa. "Aku sudah meremasnya dan membuangnya di tempat sampah. Dia pasti sudah membuangnya lagi." "Kita coba dulu," desak Claudia, matanya penuh tekad. *** Mereka tiba di lobi mewah Regenza. Claudia, dengan wajah datarnya yang berwibawa, mendekati resepsionis. Ia menyusun*** skenario. "Maaf, saya ingin bertanya. Teman saya tadi malam menginap di kamar 2901 dan dia kehilangan kartu nama penting di tempat sampah kamar mandi. Apakah Housekeeping ada membersihkan kamar itu?" Petugas resepsionis memeriksa log kamar. "Kamar 2901, atas nama Tuan Aryan. Kamar sudah dibersihkan, Nona." Claudia meminta petugas itu mengecek Lost and Found, tetapi setelah menunggu lama, kepala Housekeeping memberitahu mereka bahwa tidak ada kartu nama yang ditemukan. "Sudah kubilang, Cla. Om itu sudah membuangnya lagi," kata Ghea, menghela napas lega karena tidak harus berurusan lagi dan kecewa karena tidak ada bukti. Claudia frustrasi, tetapi ia merasa sedikit kaget mendengar nama itu mirip dengan nama pria yang ia benci. Tapi, bukankah nama Aryan cukup pasaran, pikirnya. Isegera mencari jalan lain. Ia mencoba menekan resepsionis agar memberikan detail booking Tuan Aryan, tetapi petugas itu menolak keras, mengacu pada kebijakan privasi hotel. "Aku akan mencari Reza sekarang," desis Claudia. "Plat nomor F 1888 RZ. Aku akan menghubungi temanku di kepolisian, kita butuh melacak nama pemilik plat itu." Sore itu, di kamar kos, Ghea berusaha fokus pada tugas kuliahnya, sementara Claudia mati-matian menghubungi kenalan yang bisa melacak plat mobil. Setelah satu jam, Claudia menutup telepon dengan wajah datar. "Gagal," kata Claudia singkat. "Plat itu terdaftar atas nama perusahaan rental di luar kota yang sudah bangkrut. Nomor telepon yang terdaftar juga tidak aktif. Reza menggunakan identitas palsu dan mobil sewaan yang akan segera dibuang. Dia sangat profesional." Ghea menatap Claudia, rasa takut dan putus asa menyelimutinya. "Jadi... tidak ada jejak?" "Tidak ada jejak," ulang Claudia, suaranya dipenuhi amarah. "Om-Om di hotel itu... kita hanya punya nama panggilan Aryan, dan kita tahu dia menginap di kamar 2901. Reza... dia menghilang seperti hantu." Claudia menatap Ghea. "Dengar, Ghea. Aku marah. Aku kesal. Tapi kita harus mengakui ini, mereka terlalu kuat, terlalu profesional. Jika kita terus mencari, kita bisa membahayakan diri kita sendiri." Ghea tahu Claudia benar. Ia merasa lelah menghadapi semua ini. Ia ingin hidupnya kembali normal. "sudahlah Clara, lagi pula aku sudah disini dan baik baik saja," bisik Ghea, suaranya parau. "Baik," putus Claudia, dengan nada berat. "Kita lupakan. Kita akan fokus pada kuliah saja. Tapi ingat.. jangan main tinder lagi!" "Oke ... Oke. Bawel!" Claudia, meskipun setuju, diam-diam menyalakan laptopnya. Ia mengetikkan nama "Aryan 2901 Regenza" di mesin pencari. Mesin pencari memberikan ribuan hasil, tetapi tidak ada yang spesifik. Claudia tahu, ia harus melacak pria bernama Aryan ini secara manual, tanpa melibatkan Ghea, dan tanpa bantuan polisi yang terlalu lambat. Ia harus menemukan pria ini. Blink Tiba-tiba, ponsel Ghea yang tergeletak di meja kos berbunyi nyaring. Sebuah notifikasi email masuk. Ghea meraih ponselnya, keningnya berkerut. Subject: Undangan Wawancara - Posisi office girl Yth. Sdri. Ghea Berdasarkan lamaran Anda melalui job fair kampus minggu lalu, kami mengundang Anda untuk mengikuti wawancara pada: Hari/Tanggal: Senin, 30 November Waktu: Pukul 09.00 WIB Tempat: WIRATAMA GROUP Tower, Lantai 30. Alamat: Jln. Jend. Sudirman Kav. 12, Jakarta. Mohon konfirmasi kehadiran Anda. Hormat kami, HRD WIRATAMA GROUP. Ghea menatap email itu, lalu menatap Claudia. Matanya berbinar penuh harap, melupakan sejenak trauma malam itu. "Cla! Aku dapat interview!" seru Ghea antusias. "WIRATAMA GROUP!" Claudia membeku. Ia menatap nama perusahaan itu. WIRATAMA GROUP. Nama itu terdengar sangat familiar, apakah mungkin, ada nama perusahaan yang sama? Pikir Claudia. Claudia menatap email itu lama sekali. Ia memaksakan pikirannya untuk mengabaikan nama itu. Aku tidak pernah mendengar WIRATAMA GROUP selain perusahaan .... tapi pasti itu kebetulan. Jakarta penuh dengan perusahaan properti besar. Ia tidak ingin Ghea tahu latar belakangnya yang sebenarnya. Ghea harus tetap mengira ia adalah anak panti asuhan yang mandiri. "Kau yakin melamar sebagai Office Girl, Ghea? Kau kan DKV," tanya Claudia, berusaha terdengar normal. "Iya, Cla. Itu posisi yang paling mungkin kuterima tanpa harus mengorbankan waktu kuliah terlalu banyak. Aku harus cepat dapat uang," jelas Ghea. "Kau lihat, Tuhan itu baik, kan? Menghapus Reza dan Om-Om itu, lalu memberiku ini! Ghea melompat senang, menari-nari kecil di kamar kos yang sempit. Rasa takutnya menguap, digantikan oleh semangat khas cegil yang tak terbendung. Claudia memaksakan senyum, tetapi rasa dingin menjalar di punggungnya. Ia memutuskan untuk tidak mencari tahu detail WIRATAMA GROUP sekarang. Ia akan menunggu, memastikan Ghea aman. _Senin Pagi, 30 November_ Ghea berpenampilan serapi mungkin, dengan blus putih dan rok hitam pinjaman dari Claudia. Ia berangkat menuju Gedung WIRATAMA GROUP. Gedung WIRATAMA GROUP adalah menara kaca yang menjulang tinggi di Sudirman. Ghea merasa kecil. Setelah mengambil antrean, ia diantar oleh seorang petugas menuju Lantai 30. Wawancara Ghea berjalan cepat dan profesional. Ia berhadapan dengan Ibu Sari, Manajer HRD. "Anda melamar sebagai Office Girl, Nona Ghea," kata Ibu Sari. "Anda diterima. Anda akan bertanggung jawab untuk area administrasi dan juga melayani kebutuhan Chief Executive Officer (CEO) di Lantai 35. Apakah Anda bersedia menandatangani kontrak dan mulai besok?" Ghea terkejut dan antusias. Melayani CEO di lantai 35? Itu terdengar mengintimidasi, tetapi gajinya pasti lebih besar. "Saya bersedia, Bu!" jawab Ghea mantap. Ibu Sari tersenyum. "Bagus. Silakan tanda tangani kontrak dan ambil seragam Anda." Ghea keluar dari ruang HRD dengan kontrak di tangan. Ia berhasil. Keesokan harinya, Ghea resmi bekerja di WIRATAMA GROUP. "Gila, Cla. Perusahaan ini seperti hotel bintang lima, tapi di atas gedung!" seru Ghea kepada Claudia di telepon. "Jaga sikapmu, Ghea," peringat Claudia. Ghea ditempatkan di Lantai 30 di bawah pengawasan Ibu Yani, kepala Office Girl. Ia mempelajari semua prosedur dengan cepat. Aturan paling ketat adalah tentang Lantai 35, lantai khusus CEO. "Kamu harus sangat berhati-hati di Lantai 35, Ghea," pesan Ibu Yani. "Di sana ada Chief kita. Panggil dia Bapak Aryan. Dia sangat sibuk, sangat perfeksionis, dan sangat jarang ada di kantor. Tapi jika dia ada, jangan pernah berinteraksi langsung. Beri minuman di meja asistennya, lalu segera keluar. Jangan berbicara, jangan membuat suara, dan jangan pernah menatap matanya." Aturan itu membuat Ghea bergidik. Orang ini pasti kaku sekali, pikirnya. Selama dua minggu, Ghea bolak-balik ke Lantai 35. Ruangan CEO selalu kosong. Bapak Aryan memang jarang ada. Sementara Ghea beradaptasi, Claudia semakin curiga. Ia menemukan logo WIRATAMA GROUP mirip dengan logo di kartu nama yang ia sering lihat dulu. Tiga minggu setelah Ghea bekerja, Fakultas DKV mengadakan acara tahunan, CEO Talk. Acara ini wajib dihadiri. Di belakang panggung, Aryan Wiratama sedang menunggu. Ia setuju menjadi pembicara tamu di kampus ini karena alasan promosi citra perusahaan dan, tentu saja, untuk memantau Ghea. Ia tahu Ghea ada di sana. Di aula kampus, Ghea dan Claudia duduk di barisan tengah. "Astaga, aku bosan, Cla. Kenapa kita harus mendengarkan orang kaya ini bicara?" bisik Ghea. "Diam," balas Claudia, matanya sibuk memeriksa timeline acara. Dekan fakultas naik ke podium. "Dan sekarang, mari kita sambut pembicara utama kita, seorang tokoh yang tidak asing lagi di dunia properti dan bisnis Asia Tenggara. Beliau adalah Chief Executive Officer dari WIRATAMA GROUP, Bapak..." Jantung Ghea mendadak berdebar. Ia merasa ada aura yang familiar. "...ARYAN WIRATAMA!" Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan. Aryan melangkah ke podium, tatapannya tenang dan dingin. Ghea seketika membeku. Ia menatap pria itu, rahangnya, tatapan dinginnya. Sosok yang ia temui di lift, sosok yang ia tuduh, sosok yang kini menjadi Chief yang tidak boleh ia tatap matanya di Lantai 35. "Om..." bisik Ghea, suaranya tercekat. "Om-Om di hotel itu!" "Apa katamu?" "Yah, dia Om Om itu, Clara" jelas Ghea. "b******k," geram Claudia. "Ternyata ibu benar, pria itu tidak pantas jadi Ayahku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN