Bab 23. Satu kamar, satu malam Aryan mencoba membuka pintu dari sisinya, mengerahkan tenaga hingga urat tangannya menegang. Namun, pintu jati tebal itu tidak bergeming sedikit pun. "Sepertinya mekanisme penguncinya rusak," gumam Aryan frustrasi. "Ini pintu model lama. Kalau sudah terkunci secara otomatis dari dalam tanpa kunci manual, akan sangat sulit dibuka." "Terus bagaimana? Saya tidur di sini?" Ghea menatap Aryan dengan mata yang dibuat-buat polos, menyembunyikan senyum tipis di sudut bibirnya. Aryan menghela napas panjang. Ia mencoba menghubungi resepsionis vila melalui telepon internal, namun nihil—tidak ada jawaban. Ia memeriksa ponselnya, tapi bar sinyal di sudut layar menghilang total. Badai kecil yang mulai mengguyur tebing itu tampaknya memutus koneksi mereka. "Teleponnya

