Ultimatum Tiket dan Perang Bisu

1218 Kata

Bab 12: Ultimatum Tiket dan Perang Bisu Ghea meninggalkan ruangan Aryan dengan langkah yang terasa berat, seolah oksigen di koridor Lantai 35 mendadak menipis. Ia baru saja menggadaikan kedamaian hidupnya demi sebuah misi yang mustahil. Memaksa Claudia menerima tiket itu bukan sekadar menjalankan tugas, melainkan menyiram bensin ke dalam api permusuhan yang sudah berkobar selama delapan tahun. Di sudut lobi yang sepi, Ghea menatap layar ponselnya. Jemarinya bergetar saat mengetik pesan. Ia sengaja tidak menelepon; ia butuh kata-kata tertulis yang tajam, yang bisa dibaca berulang kali sebagai tamparan realitas. Ghea: Cla, aku tahu kau ingin membunuhku sekarang. Tapi dengar, Ayahmu mengirimkan tiket kelas satu ke luar negeri. Harganya gila, Cla. Sebanding dengan seluruh peluhmu di proyek

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN