Jari-jari Aryan yang hangat mulai menyentuh beberapa helai rambut Ghea yang jatuh di bahu. Sentuhan itu pelan, hampir ragu, namun mengirimkan getaran hebat yang membuat Ghea merasa seolah-olah lantai dapur itu bergoyang. Lampu dapur yang remang-remang membuat bayangan mereka menyatu di dinding. Ghea bisa merasakan hembusan nafas Aryan yang hangat di keningnya, aroma maskulin yang bercampur dengan wangi kopi dingin yang tertinggal. Aryan sedikit merunduk, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka. "Ghea..." bisiknya, suara itu bergetar, jauh dari kesan tegas sang CEO yang biasanya ia tunjukkan. "Daster merah ini... kamu sengaja ingin membuat saya gila?" Ghea mendongak, matanya yang besar menatap langsung ke dalam manik mata Aryan yang dalam. "Kalau Bapak jadi gila, berarti strategi s

