Tak peduli pada tangisan dan rintihan Zakiyah, yang bahkan hanya bisa terpejam menahan sakit. Hingga akhirnya dia mengerang panjang dan mengejang, memberikan hentakan kuat terakhir kalinya di pangkal paha Zakiyah, melepaskan benih-benihnya di dalam rahim Zakiyah. “f**k! Kamu nikmat tak terbantahkan, Zakiyah!” geram Jayden sambil berguling melepaskan diri dari tubuh Zakiyah. “Eh?!” Mata Jayden terbelalak lebar manakala melihat adanya bercak darah melebar di bawah tubuh Zakiyah, dia pun terkejut melihat wajah pucat Zakiyah yang merintih dan menangis lemah. “Kiya–” “PERGI!” teriak Zakiyah seraya beringsut menjauh dari jangkauan tangan Jayden, gadis itu tampak terguncang dan ketakutan. Jayden terhenyak sendiri, menyadari perbuatannya. “Astaga! Apa yang telah aku lakukan?!” desahnya. Ba