171

1118 Kata

Ariana menghentakkan kakinya pelan di atas lantai rumah sakit. Ia mencoba menghubungi Sadewa tapi, papanya itu tak kunjung mengangkat telepon darinya. Hanya dua orang yang Ariana tahu memiliki golongan darah serupa sang paman. “Pah.. Tolong angkat telepon Ariana..” lirih wanita itu. Ia takut terjadi hal lebih buruk pada pamannya, sedang dibalik kejadian itu pasti akan ada dua hati manusia yang merasakan duka. Mereka baru saja kehilangan sang oma. Rasanya masih segar di dalam ingatan Ariana dimana banyak orang berkumpul menyaksikan pemakaman wanita yang telah melahirkan papanya. “Sayang...” Ariana melayangkan telapak tangan, meminta agar Arsa tidak mengganggunya terlebih dahulu. “Pah.. Please, Pah.” Sudah berkali-kali Arian mencoba, tapi hasilnya tetap sama. Tidak ada sahutan. Panggilann

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN